Kamis, 11 Februari 2016

SERIAL NEGARA DAN IDEOLOGI IV

Konservatisme

I. Definisi dari Konservatisme
            Konservatisme adalah padanan kata yang berasal dari kata dalam Bahasa Latin, conservare, yang berarti melestarikan, menjaga, memelihara dan mengamalkan. Sebagaimana yang diketahui arti dari konservatisme adalah filsafat politik yang didukung oleh nilai-nilai tradisional yang berusaha mempertahankan apa yang ada sehingga tidak ada perubahan yang berarti. Dimana pemikiran konservatisme dianggap biang dari segala kebekuan pemikiran, sehingga seseorang yang memiliki pemikiran konservatif tidak akan  maju.
            Sesungguhnya mereka yang ingin melestarikan apa yang ada, agar terpelihara status quo dengan sedikit sekali perubahan di hari depan adalah konservatif. Dengan demikian konsevatisme bukanlah sebuah kumpulan kepercayaan tapi sebuah sudut pandang. Sebagai akibatnya seorang yang konservatif sangat enggan melakukan perubahan. Khususnya lembaga masyarakat yang telah lama berdiri seperti, gereja, struktur sosial-ekonomi, dan lembaga politik harus diperhatikan dengan rasa hormat dan unsur-unsur didalamnya hanya sedikit dirubah. (Carlton, dkk 2009:143)
II. Substansi dari Konservatisme
            Hal pokok dari konsevatisme adalah tradisi. Kaum konservatif beranggapan apa yang telah terjadi di masa lalu pasti membawa sanksi moral di masa depan (Carlton, dkk 2009:145-146). Jadi kaum konservatif tidak terganggu oleh lemahnya argumentasi liberal klasik tentang hak-hak dasar dan milik pribadi. Bagi kaum konservatif, tidak ada hak-hak dasar, dan juga tidak ada hak mutlak dalam milik pribadi. Hakikat ini semua adalah bagaimana caranya supaya apa yang ada tidak berubah dan perubahan yang terjadi hanya bersifat terbatas.
            Kekakuan dalam pemerintahan juga menjadi substansi pokok dari Konservatisme. Konservatisme melihat sebuah pemerintahan yang baik adalah pemerintahan yang mampu memberikan apa yang dibutuhkan oleh rakyatnya sesuai tradisi-tradisi normatif yang telah lama ada.
            Agama merupakan salah satu sumber konservatisme dimana, kaum konservatif biasanya sangat suka mengambil dalil-dalil dalam agama sebagai tameng mereka yang tidak suka perubahan. Konservatsime berkembang pesat ketika eropa pada masa kegelapan, dimana teori Kristen yang konservatif sangat tidak membuka ruang bagi munculnya teori diluar agama mereka.

III. Elemen-Elemen dari Konservatisme
            Konservatisme berakar dari elemen-elemen dasar sifat alami manusia yang ingin mempertahankan apa yang sudah baik bagi dirinya. Konservatisme selalu bergulat dengan kaum perubah yang ingin mengubah hal lama menjadi baru. Kaum konservatisme percaya jika perubahan itu baik maka itu hanya perlu dilakukan untuk menyempurnakan apa yang sudah ada.
Konservatisme bersandar pada prinsip nilai-nilai norma dalam masyarakat yang telah berurat berakar dan menjadi bagian dari masyarakat. Kaum konservatif sangat takut ini berubah dan berpikir jika diterapkan nilai baru maka akan muncul ketidakstabilan dalam masyarakat.
            Kaum konservatif bersifat konstitualisme dimana peraturan dalam hukum sangat mereka junjung tinggi dan benci jika ada yang mengubah hal ini. Karena hukum bagi mereka merupakan aturan tertulis terakhir yang menegaskan eksistensi mereka, karena aturan hukum pada umumnya ditulis oleh orang sebelum mereka dan mereka ingin mempertahankan hal itu.

IV. Aplikasinya dari Konservatisme dalam kehidupan saat ini
            Konservatisme secara luas sebagai sebuah ideologi banyak diterapkan dinegara-negara yang anti revolusi dan perubahan yang radikal. Seperti negara-negara di Timur Tengah. Timur Tengah dengan faham syariat islamnya tidak ingin agar faham tersebut berubah dan tetap dipakai sebagai pedoman dalam bertingkah laku.
            Di amerika serikat kita mengenal adanya partai republik. Bagaimanapun, setelah sekian lama Partai Republik lebih enggan mencoba program-program baru dibandingkan Partai Demokrat dan terbukti partai ini memusuhi kegiatan negara terutama dalam bidang kesejahteraan dan campur tangan pemerintah.
            Di Tiongkok konservatisme didasarkan pada ajaran-ajaran Kong Hu Cu. Kong Hu Cu yang hidup pada masa kekacauan dan peperangan antara berbagai kerajaan, banyak menulis tentang pentingnya keluarga, kestabilan sosial, dan ketaatan terhadap kekuasaan yang adil. Gagasan-gagasannya terus menyebar di masyarakat Tiongkok. Konservatisme Tiongkok yang tradisional yang diwarnai oleh pemikiran Kong Hu Cu telah muncul kembali pada tahun-tahun belakangan ini, meskipun selama lebih dari setengah abad ditekan oleh pemerintahan China yang komunis.

SERIAL NEGARA DAN IDEOLOGI III

Komunisme
 
I. Definisi dari Komunisme
            Komunisme adalah sebuah ideologi koreksi terhadap perkembangan dari kapitaslime pada abad ke-19. Komunisme bercirikan bahwa segala milik pribadi juga milik negara. faham ini bersumber dari buku karangan Karl Mark yaitu manifesto komunis. Komunisme sebagai sebuah ideologi sebenarnya tidak dapat diterapkan secara sempurna. Mengingat sebagian teori-teori dari faham ini bersifat utopia atau tidak mungkin terwujud.

II. Substansi dari Komunisme
            Dari urain singkat mengenai apa itu komunisme dapat kita buat sustansi pokok apa itu komunisme.
  1. Sifatnya atheis tidak mengimani adanya Tuhan. Orang komunis menganggap Tuhan tidak ada, kalau berfikir Tuhan tidak ada. Akan tetapi, kalau ia berfikir Tuhan ada, jadilah Tuhan ada. Maka, keberadaan Tuhan terserah kepada manusia.
  2. Kurang menghargai manusia sebagai individu. Manusia itu seperti mesin. Kalau sudah tua rusak, jadilah ia rongsokan tidak berguna lagi seperti rongsokan mesin. Komunisme juga kurang menghargai individu, terbukti dari ajarannya yang tidak memperbolehkan ia menguasai alat-alat produksi.
  3. Mengajarkan teori perjuangan (pertentangan) kelas, misalnya proletariat melawan tuan tanah dan kapitalis. Pemerintah komunis di Rusia pada zaman Lenin pernah mengadakan pembersihan kaum kapitalis (1919-1921). Selain pada tahun 1927 mengadakan pembersihan kaum feodal atau tuan tanah.
  4. Mempunyai doktrin the permanent atau continous revolusion (revolusi terus-menerus). Revolusi itu menjalar ke seluruh dunia. Maka, komunisme sering disebut go International.
  5. Mempunyai program tercapainya masyarakat yang makmur, masyarakat komunis tanpa jelas, dan semua orang sama.
  6. Dalam dunia politik komunisme menganut sistem politik satu partai, yaitu komunis.
III. Elemen-elemen penting dari komunisme
            Buruh merupakan kelas pekerja yang sejak awal menjadi penggerak revolusi dari komunisme. Buruh dan komunisme ibarat dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Ketika merebut kekuasaan komunisme selalu menggunakan tenaga buruh untuk menjatuhkan pemerintahan yang kapitalis. Buruh atau kaum proleter menurtut Karl Mark merupakan kaum yang akan membangun dunia baru dari dunia lama. Mark berpendapat buruh suatu saat akan bangkit melawan kaum kapilais dan menciptakan masyarakat tanpa kelas.
            Partai komunis, ketika komunisme berhasil menancapkan kakinya pada kekuasaan otomatis partai politik yang ada hanya ada satu, yaitu partai komunis. Seluruh kekuasaan domonopoli oleh satu partai, kedaulatan rakyat adalah kedaulatan partai, dan hanya partai lah yang benar. Komunisme sebagai ideologi berjuang meraih kekuasaan dengan jalan kekerasan dan revolusi. Namun, ketika berkuasa partai komunis justru tidak mentoleransi adanya demonstrasi dan pendapat pribadi. Suatu hal yang sangat bertentangan ketika mereka berusaha meraih kekuasaan.
            Membangun masyarakat tanpa kelas adalah tujuan akhir dari komunisme. Tapi tampaknya tujuan itu hanya utopia karena komunisme sejak awal telah membangun garis pemisah yang tegas antara rakyat biasa dengan anggota partai. Masyarakat tanpa kelas bagi komunisme adalah masyarakat yang didalamnya tidak ada pengkotak-kotakan antara buruh dengan majikan, rakyat dengan penguasa, dan kaya dengan miskin. Padahal ini merupakan hal yang mustahil untuk diwujudkan karena pada dasarnya startifikasi dalam masyarakat telah terbentuk secara alamiah.

III. Aplikasi dari Komunisme dalam kehidupan saat ini
            Komunisme telah berumur 100 tahun lebih. Meskipun demikian pokok-pokok pikirannya mengenai masyarakat industri tidak berubah, meskipun telah terjadi peubahan-perubahan yang radikal dalam masyarakat industri. Jurang antara pandangan komunis dengan dunia yang sebenarnya semakin hari makin tambah luas. Sangat sulit untuk mencari contoh negara yang menerapkan faham komunisme secara murni. Negara-negara komunis seperti RRT, Vietnam, Laos, Kore Utara, dan Kuba walaupun menerapkan ideologi komunis tetapi esensi komunismenya telah hilang, yang mereka terapkan saat ini adalah otoritarianisme semata(Carlton, dkk 2009:110) .
            Aplikasi nyata dari komunisme saat ini adalah diterapkannya ide-ide mengenai lembaga negara harus dibuat untuk menciptakan kesejahteraan bersama dan bukan untuk mensejahterakan segelintir individu. Demo anti Wall Street muncul sebagai akibat sepinya peran negara dalam kegiatan perekonomian yang kapitalis. Walaupun penyokong besar komunisme telah runtuh, tapi ideologi ini tetap hidup dan menemukan momennya ketika ada krisis ekonomi yang melanda dunia.
            Korea Utara mungkin merupakan negara yang paling konservatif dalam menerapkan komunisme dimana mereka berusaha keras untuk membuat masyarakatnya menjadi masyarakat tanpa kelas, mendidik masyarakatnya dengan ideologi komunisme sejak kecil, dan membangun industrinya dengan prinsip-prinsip Mark dan Engels. Walaupun begitu Korea Utara mungkin juga contoh gagal dari komunisme karena Korea Utara tanpa sadar telah jauh tertinggal dari negara tetangganya Korea Selatan yang menganut faham liberal. Hal ini juga menunjukkan keunggulan dari liberalisme dan kegagalan dari komunisme.

SERIAL NEGARA DAN IDEOLOGI II

Liberalisme

I. Definisi dari liberalisme
            Liberalisme berasal dari kata dalam Bahasa Latin yaitu liber yang berarti “Bebas”. Liberalisme adalah sebuah ideologi yang mendukung kebebasan individu dan hak-hak sipil. Liberalisme umumnya ditunjukkan dengan sikap mereka yang mendukung hak asasi manusia, pemilu yang adil, kebebasan beragama, konstitusionalisme, demokrasi liberal, dan perdagangan bebas. Liberalisme menjadi ideologi yang cepat diterima diseluruh dunia karena konsepnya banyak dipakai oleh para kaum cendekiawan pada waktu itu.
            Liberalisme sebagai sebuah ideologi lahir dari para pemikir-pemikir masa pencerahan dan revolusi prancis pada akhir abad ke-18. Ketika terjadi revolusi prancis kaum borjuis merasa terkekang oleh penguasaan ekonomi yang sudah ketinggalan zaman yang dilakukan oleh raja Louis XVI. Slogan revolusi prancis yang sangat terkenal yaitu kebebasan, persamaan, persaudaraan. Jelas datang dari kaum borjuis yang mengingginkan perubahan atas sistem otoriter raja, mereka berusaha menghilangkan peranan gereja sebagai pemillik harta kekayaan dan lembaga ekonomi, menuntut diadakannya sistem perdagangan bebas yang berdasarkan laissez faire ( negara tidak ikut campur dalam masalah ekonomi) dan kedudukan yang sederat antara rakyat dan penguasa, serta dihapuskannya status sosial yang istimewa seperti status bangsawan.

II. Substansi dari Liberalisme
            Liberalisme sebagai sebuah ideologi lahir dengan semangat kepentingan individu yang kuat. Dimana yang menjadi pusat adalah individu, seorang individu dilahirkan dengan bebas dan dapat melakukan segala hal asalkan tidak merugikan orang lain. Paham liberalisme adalah paham yang bersifat utilitarianisme yaitu paham yang berarti seorang individu ketika melakukan sesuatu hanya akan melakukan sesuatu yang berguna bagi dirinya sendiri (Carlton, dkk 2009:133), seiring dengan proses sejarah utilitarianisme kemudian berkembang menjadi paham hedonisme yaitu faham yang hanya mengejar kebahagian.
            Tidak dapat dipungkiri liberalisme sebagai sebuah ideologi sangat erat kaitannya dengan kapitalisme. Liberalisme beranggapan ekonomi harus dibiarkan bebas, individu yang memiliki kecakapan dalam bidang ekonomi sebaiknya dibiarkan untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Liberalisme beranggapan campur tangan pemerintah harus seminimal mungkin dalam kegiatan perekonomian, bahwa konflik antara pemilik usaha dengan bawahannya harus dibiarkan diselesaikan sendiri oleh mereka. Liberalisme beranggapan bahwa peran pemerintah hanya terbatas pada pelindung kegiatan perekonomian.
            Liberalisme menekankan arti pentingnya rasionalitas. (Carlton, dkk 2009:134) Rasionalitas menurut liberalisme adalah pembimbing dalam melakukan berbagai tindakan untuk mencapai kebebasan. Segala hal yang diluar nalar dianggap tidak ada dan tidak mungkin ada. Karena hal tersebut kaum liberal berusaha membuat kitab suci agama menjadi sesuatu yang rasional dan dapat diterima oleh akal. Karena usaha untuk membuktikan segala fenomena alam dan kitab suci secara rasional inilah muncul kaum atheis, kaum atheis beraggapan bahwa segala sesutu berangkat dari rasio, ketika sesuatu itu tidak sesui rasio maka ia tidak dapat diterima. Liberalisme merupakan ideologi awal yang berusaha membuktikan segala fenomena alam secara ilmiah atau sesuai rasio pikiran.
            Kekuasaan politik bagi kaum liberal seharusnya ada dalam tangan mereka yang mempunyai hak milik sendiri dan mereka yang dengan kecerdasan dan kerja kerasnya telah menunjukkan kemampuan yang lebih dalam memerintah. Seorang yang mampu memimpin menurut kaum liberal adalah orang yang tidak akan mencampuri masalah individu dan berusaha melindungi mereka dari segi keamanan.

III. Elemen-Elemen dari liberalisme
            Elemen-elemen kunci dari liberalsime adalah kebebasan, hak asasi manusia, demokrasi, dan kerja sama antar bangsa.
            Kebebasan merupakan aspek kunci dari liberalisme, kerena tanpa kebebasan tidak akan ada individu yang kreatif yang mampu mengelola negara, ekonomi, dan hukum. Kebebasanlah yang mendorong seorang individu untuk berusaha mencapai yang terbaik bagi diri mereka sendiri. Menurut kaum liberal kebebasanlah yang menjadi pendorong umat manusia dalam bertindak.
            Hak asasi manusia adalah sebuah hal yang menjadi fokus utama kaum liberal selain kebebasan. Kaum liberal sangat menghormati apa yang dikatakan oleh presiden AS, Franklin Delano Roosevelt tentang empat kebebasan yang terdiri dari bebas untuk menyatakan pendapat, bebas untuk beragama, bebas dari rasa takut, dan bebas dari kemelaratan. Sejak awal kaum liberal berusaha menyebarkan faham hak asasi manusia keseluruh dunia, dan beranggapan jika HAM berhasil ditegakkan maka tidak akan ada lagi individu yang merasa terasing di negaranya.
            Kaum liberal percaya jika faham demokrasi berhasil disebarluaskan keseluruh dunia maka tidak akan ada lagi kediktaktoran. Meminjam perkataan terkenal dari Abraham Lincoln demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dengan ditegakkannya demokrasi diseluruh dunia maka kaum liberal bermimpi bahwa rakyat yang akan memegang peranan kunci pada suatu negara. Pada akhirnya semua negara akan berusaha sebaik mungkin untuk mensejahterakan rakyatnya.
            Liberalisme berusaha mendorong kerjasama antar negara karena kaum liberal berpikir bahwa melaui kerja sama antar bangsa setiap individu akan merasa sebagai bagian dari sebuah sitem internasional dan mereka merasa diikutkan sebagai aktor yang mempu mengubah kebijakan suatu negara.
IV. Aplikasi dari Liberalisme dalam kehidupan saat ini
            Liberalisme sebagai sebuah ideologi telah banyak diaplikasikan/dipraktekan oleh negara-negara diseluruh dunia, seperti Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Kanada, ItaliA, dan oleh banyak negara barat lainnya. Mereka menerapkan liberalisme terutama pada bidang perdagangan antar negara melalui pengurangan tarif, perdagangan bebas, dan kerjasama melalui perusahaan asing. Liberalisme kini tidak lagi sebuah ideologi yang terbatas pada suatu negara namun kini telah menjelma dalam praktek kehidupan kita sehari-hari. Demokrasi ala barat yang coba mereka terapkan di timur tengah, sedikit banyak mungkin adalah sebuah ekspansi ideologi paling keras sepanjang abad ini. Sepanjang sejarahnya liberalisme adalah sebuah ideologi yang berkembang demikian pesat karena digerakkan oleh semangat kapitalisme dan kebebasan individu. Negara dunia ketiga umumnya silau atas kemajuan pesat yang dialami oleh negara barat dan mereka mencoba untuk menyerap liberalisme ke dalam ideologi negara mereka. Tetapi hasil yang mereka harapkan justru nihil yang ada malah negara mereka kacau, mereka berharap dengan menerapkan pemilu, perdagangan bebas, dan HAM akan membuat negara mereka seperti barat, tapi yang terjadi negara mereka malah kacau karena proses penyerapan ideologi yang tidak sempurna dan karena kebudayaan mereka yang memang tidak berakar pada tradisi liberalisme.
            Praktek nyata dari liberalisme saat ini adalah yang sedang terjadi di Timur Tengah, dimana minyak dan pertarungan ideologi berbaur menjadi satu. AS selain berusaha mendapat minyak Timur Tengah  juga ingin agar demokrasi ala barat dapat diterapkan di timur tengah dan menggeser peran Islam sebagai sebuah ideologi. Apa yang dilakukan oleh AS ini bukanlah bentuk liberalisme klasik, tapi disebut neoliberalisme dimana terjadi eksploitasi orang oleh sedikit orang. Liberalisme tampaknya akan semakin berkembang lebih jauh karena didorong oleh kondisi dunia yang telah lepas dari perang dingin.

SERIAL NEGARA DAN IDEOLOGI I

Arti Ideologi Secara Umum

            Kata ideologi mungkin bukanlah kata asing ditelinga kita, sejak kita SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi, kita tetap menjumpai kata ini. Sebelum berbicara lebih jauh mengenai ideologi politik dunia ada baiknya kita memahami dahulu apa itu ideologi, bagaimana ideologi bisa sampai ada, dan apa fungsi ideologi. Setelah memahami ini semua barulah kita bisa beranjak kepada ideologi-ideologi politik macam apa yang berpengaruh di dunia.
            Walaupun mudah diucapkan namun ketika awal kata ini diciptakan oleh Count Antoine Destutt De Tracy pada tahun 1796 banyak kontroversi terkait penggunaan kata ini, pada awalnya Tracy berusaha untuk mencari padanan kata tentang sains tentang ide. Tracy memisahkan tiga aspek yaitu: ideologi, tata bahasa umum, dan logika. Mengingat setiap aspek adalah penting dan saling berkaitan. Tracy mengatakan bahwa aspek ideologi adalah yang paling umum, mengingat ilmu pengetahuan juga berasal dari ide.
            Kata Ideologi sendiri berasal dari Bahasa Yunani, yaitu ideas dan logos. Ideas berarti gagasan atau ide sedangkan logos berarti ilmu. Berdasarkan hal tersebut, arti secara etimologis (berdasarkan asal kata) dari ideologi adalah sekumpulan ilmu tentang idea atau gagasan yang bertujuan untuk meraih cita-cita bersama. Sedangkan definisi secara terminologis (menurut pendapat para ahli) mengenai apa itu ideologi disampaikan oleh beberapa tokoh penting  seperti Terry Eagleton , Karl Mark, dan Machiavelli.
            Terry Eagleton mengatakan bahwa ideologi adalah proses untuk membentuk arti, tanda, nilai dalam kehidupan, berbeda dengan Terry Eagleton, Karl Mark mengatakan bahwa ideologi merupakan alat untuk mencapai kesejahteraan dan kesetaraan dalam masyarakat, sedangkan Machiavelli mengatakan bahwa ideologi adalah sebuah sistem yang dapat digunakan oleh penguasa untuk melindungi kekuasaannya.
            Dari pengertian secara etimologis dan terminologis diatas dapat kita tarik sebuah kesimpulan mengenai apa itu ideologi. Ideologi sesungguhnya adalah sebuah konsep ide-ide bersama yang terbentuk sebagai akibat munculnya tujuan bersama atau cita-cita bersama dan ada harapan melalui penggunaan dari pada ideologi tersebut akan berhasil meraih tujuan yang diharapkan.
            Pertanyaan kedua yang muncul adalah mengapa ideologi bisa sampai ada, jika kita telusuri lebih jauh maka kita akan melihat tidak ada negara di dunia yang tanpa ideologi. Ideologi sebagai sebuah status quo memberikan pengesahan kepada pemerintah untuk membenarkan setiap tindakannya. Ideologi dapat digunakan oleh pemerintah untuk menindas rakyatnya dengan dalih “hak ketuhanan raja” atau “kehendak negara”. Dengan demikian mungkin mucul dalam benak kita apakah ideologi milik negara? Pertanyaan ini mungkin antara jawanban ya dan tidak, karena pada dasarnya ideologi sebagai sebuah representasi dari suatu negara atau ciri khas sutu negara memang membenarkan dirinya (ideology) sebagi sebuah alat negara, tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita melihat bahwa masyarakat pada umumnya pun memiliki ideologi.
            Adanya ideologi tidak dapat kita lepaskan dari sejarah abad ke-17 dimana terjadinya revolusi Prancis dan peran-peran gereja mulai tersingkir dalam kehidupan sosial dan ekonomi, masyarakat yang sebelumnya bersandar pada pelayanan-peayanan yang diberikan oleh gereja berpaling kepada pemerintah dalah hal penyediaan kebutuhan, hal ini berakibat lahirnya semangat atau cita-cita besar untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Cara yang ditempuh waktu itu adalah dengan mengganti ideologi negara yang berdasarkan agama menjadi sebuah ideologi sekuler. Ini merupakan toggak awal bagi munculnya ideologi pemerintahan modern.
Segala sesuatu yang ada di dunia pasti memilki fungsi, tidak terkecuali ideologi. Ideologi pada dasarnya berfungsi sebagai dasar etika pada pelaksanaan kekuasaan politik, ideologi juga bisa mempersatukan rakyat sutu negara atau pengikut suatu gerakan yang berusaha mengubah negara. Ideologi yang memungkinkan adanya komunikasi simbolis antara pemimpin dan rakyatnya, untuk berjuang bahu-membahu demi prinsip bukan pribadi. Ideologi juga merupakan suatu pedoman untuk memilih kebijakan dan perilaku politik. Ideologi juga memberikan cara kepada mereka yang menginginkan serta kepada yang yakin akan akan arti keberadaan dan tujuan tindakannya.
            Setelah kita memahami apa itu ideologi barulah kita akan sampai pada pertanyaan apa saja ideologi politik yang berpengaruh didunia. Ideologi-ideologi yang banyak digunakan oleh negara-negara besar di dunia dan mempengaruhi kebijakan politik yang diambil oleh suatu negara. Disini hanya akan di bahas beberapa ideologi yang paling berpengaruh di dunia seprti liberalisme, sosialisme, komunisme, dan konservatisme.