Kamis, 11 Februari 2016

SERIAL NEGARA DAN IDEOLOGI II

Liberalisme

I. Definisi dari liberalisme
            Liberalisme berasal dari kata dalam Bahasa Latin yaitu liber yang berarti “Bebas”. Liberalisme adalah sebuah ideologi yang mendukung kebebasan individu dan hak-hak sipil. Liberalisme umumnya ditunjukkan dengan sikap mereka yang mendukung hak asasi manusia, pemilu yang adil, kebebasan beragama, konstitusionalisme, demokrasi liberal, dan perdagangan bebas. Liberalisme menjadi ideologi yang cepat diterima diseluruh dunia karena konsepnya banyak dipakai oleh para kaum cendekiawan pada waktu itu.
            Liberalisme sebagai sebuah ideologi lahir dari para pemikir-pemikir masa pencerahan dan revolusi prancis pada akhir abad ke-18. Ketika terjadi revolusi prancis kaum borjuis merasa terkekang oleh penguasaan ekonomi yang sudah ketinggalan zaman yang dilakukan oleh raja Louis XVI. Slogan revolusi prancis yang sangat terkenal yaitu kebebasan, persamaan, persaudaraan. Jelas datang dari kaum borjuis yang mengingginkan perubahan atas sistem otoriter raja, mereka berusaha menghilangkan peranan gereja sebagai pemillik harta kekayaan dan lembaga ekonomi, menuntut diadakannya sistem perdagangan bebas yang berdasarkan laissez faire ( negara tidak ikut campur dalam masalah ekonomi) dan kedudukan yang sederat antara rakyat dan penguasa, serta dihapuskannya status sosial yang istimewa seperti status bangsawan.

II. Substansi dari Liberalisme
            Liberalisme sebagai sebuah ideologi lahir dengan semangat kepentingan individu yang kuat. Dimana yang menjadi pusat adalah individu, seorang individu dilahirkan dengan bebas dan dapat melakukan segala hal asalkan tidak merugikan orang lain. Paham liberalisme adalah paham yang bersifat utilitarianisme yaitu paham yang berarti seorang individu ketika melakukan sesuatu hanya akan melakukan sesuatu yang berguna bagi dirinya sendiri (Carlton, dkk 2009:133), seiring dengan proses sejarah utilitarianisme kemudian berkembang menjadi paham hedonisme yaitu faham yang hanya mengejar kebahagian.
            Tidak dapat dipungkiri liberalisme sebagai sebuah ideologi sangat erat kaitannya dengan kapitalisme. Liberalisme beranggapan ekonomi harus dibiarkan bebas, individu yang memiliki kecakapan dalam bidang ekonomi sebaiknya dibiarkan untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Liberalisme beranggapan campur tangan pemerintah harus seminimal mungkin dalam kegiatan perekonomian, bahwa konflik antara pemilik usaha dengan bawahannya harus dibiarkan diselesaikan sendiri oleh mereka. Liberalisme beranggapan bahwa peran pemerintah hanya terbatas pada pelindung kegiatan perekonomian.
            Liberalisme menekankan arti pentingnya rasionalitas. (Carlton, dkk 2009:134) Rasionalitas menurut liberalisme adalah pembimbing dalam melakukan berbagai tindakan untuk mencapai kebebasan. Segala hal yang diluar nalar dianggap tidak ada dan tidak mungkin ada. Karena hal tersebut kaum liberal berusaha membuat kitab suci agama menjadi sesuatu yang rasional dan dapat diterima oleh akal. Karena usaha untuk membuktikan segala fenomena alam dan kitab suci secara rasional inilah muncul kaum atheis, kaum atheis beraggapan bahwa segala sesutu berangkat dari rasio, ketika sesuatu itu tidak sesui rasio maka ia tidak dapat diterima. Liberalisme merupakan ideologi awal yang berusaha membuktikan segala fenomena alam secara ilmiah atau sesuai rasio pikiran.
            Kekuasaan politik bagi kaum liberal seharusnya ada dalam tangan mereka yang mempunyai hak milik sendiri dan mereka yang dengan kecerdasan dan kerja kerasnya telah menunjukkan kemampuan yang lebih dalam memerintah. Seorang yang mampu memimpin menurut kaum liberal adalah orang yang tidak akan mencampuri masalah individu dan berusaha melindungi mereka dari segi keamanan.

III. Elemen-Elemen dari liberalisme
            Elemen-elemen kunci dari liberalsime adalah kebebasan, hak asasi manusia, demokrasi, dan kerja sama antar bangsa.
            Kebebasan merupakan aspek kunci dari liberalisme, kerena tanpa kebebasan tidak akan ada individu yang kreatif yang mampu mengelola negara, ekonomi, dan hukum. Kebebasanlah yang mendorong seorang individu untuk berusaha mencapai yang terbaik bagi diri mereka sendiri. Menurut kaum liberal kebebasanlah yang menjadi pendorong umat manusia dalam bertindak.
            Hak asasi manusia adalah sebuah hal yang menjadi fokus utama kaum liberal selain kebebasan. Kaum liberal sangat menghormati apa yang dikatakan oleh presiden AS, Franklin Delano Roosevelt tentang empat kebebasan yang terdiri dari bebas untuk menyatakan pendapat, bebas untuk beragama, bebas dari rasa takut, dan bebas dari kemelaratan. Sejak awal kaum liberal berusaha menyebarkan faham hak asasi manusia keseluruh dunia, dan beranggapan jika HAM berhasil ditegakkan maka tidak akan ada lagi individu yang merasa terasing di negaranya.
            Kaum liberal percaya jika faham demokrasi berhasil disebarluaskan keseluruh dunia maka tidak akan ada lagi kediktaktoran. Meminjam perkataan terkenal dari Abraham Lincoln demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dengan ditegakkannya demokrasi diseluruh dunia maka kaum liberal bermimpi bahwa rakyat yang akan memegang peranan kunci pada suatu negara. Pada akhirnya semua negara akan berusaha sebaik mungkin untuk mensejahterakan rakyatnya.
            Liberalisme berusaha mendorong kerjasama antar negara karena kaum liberal berpikir bahwa melaui kerja sama antar bangsa setiap individu akan merasa sebagai bagian dari sebuah sitem internasional dan mereka merasa diikutkan sebagai aktor yang mempu mengubah kebijakan suatu negara.
IV. Aplikasi dari Liberalisme dalam kehidupan saat ini
            Liberalisme sebagai sebuah ideologi telah banyak diaplikasikan/dipraktekan oleh negara-negara diseluruh dunia, seperti Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Kanada, ItaliA, dan oleh banyak negara barat lainnya. Mereka menerapkan liberalisme terutama pada bidang perdagangan antar negara melalui pengurangan tarif, perdagangan bebas, dan kerjasama melalui perusahaan asing. Liberalisme kini tidak lagi sebuah ideologi yang terbatas pada suatu negara namun kini telah menjelma dalam praktek kehidupan kita sehari-hari. Demokrasi ala barat yang coba mereka terapkan di timur tengah, sedikit banyak mungkin adalah sebuah ekspansi ideologi paling keras sepanjang abad ini. Sepanjang sejarahnya liberalisme adalah sebuah ideologi yang berkembang demikian pesat karena digerakkan oleh semangat kapitalisme dan kebebasan individu. Negara dunia ketiga umumnya silau atas kemajuan pesat yang dialami oleh negara barat dan mereka mencoba untuk menyerap liberalisme ke dalam ideologi negara mereka. Tetapi hasil yang mereka harapkan justru nihil yang ada malah negara mereka kacau, mereka berharap dengan menerapkan pemilu, perdagangan bebas, dan HAM akan membuat negara mereka seperti barat, tapi yang terjadi negara mereka malah kacau karena proses penyerapan ideologi yang tidak sempurna dan karena kebudayaan mereka yang memang tidak berakar pada tradisi liberalisme.
            Praktek nyata dari liberalisme saat ini adalah yang sedang terjadi di Timur Tengah, dimana minyak dan pertarungan ideologi berbaur menjadi satu. AS selain berusaha mendapat minyak Timur Tengah  juga ingin agar demokrasi ala barat dapat diterapkan di timur tengah dan menggeser peran Islam sebagai sebuah ideologi. Apa yang dilakukan oleh AS ini bukanlah bentuk liberalisme klasik, tapi disebut neoliberalisme dimana terjadi eksploitasi orang oleh sedikit orang. Liberalisme tampaknya akan semakin berkembang lebih jauh karena didorong oleh kondisi dunia yang telah lepas dari perang dingin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar