Kamis, 13 Juli 2017

PERTOBATAN SANG RAMPOK LEGENDARIS

ADALAH sebuah gereja tua di Timur Simpang Lima Semper, Jakarta Utara. Tempatnya tidak mencolok. Terselip di antara gudang dan hanggar truk besar tronton juga kontainer.

Gereja Paroki Salib Suci. Gereja ini memiliki banyak cerita. Salah satunya kisah Salib yang bertengger di dalam sebuah gua buatan manusia di sebelah gua Maria. 

Salib ini bentuknya biasa. Hampir ada di setiap gereja. Tapi Salib ini istimewa. Kenapa? Karena Salib ini buatan seorang Ignatius Waluyo alias Kusni Kasdut.

Barangkali sekarang tak banyak orang tahu sosok ini. Kita coba lambungkan ingatan pada masa silam. Menelisik lahirnya Salib dari tangan seorang perampok legendaris pada masanya.

----
Hidup melarat membuat Kusni terpersosok dunia kelam keparat. Namun dia sempat berubah untuk berjuang pada masa perang kemerdekaan. Hanya saja, kekecewaan masa perjuangan mengembalikannya pada masa kelam. Catatan hebatnya di dunia hitam adalah perampokan di Museum Gajah, yang letaknya tak jauh dari Istana Negara, dengan hasil 11 butir berlian.


Waluyo yang kemudian dikenal sebagai Kusni Kasdut, lahir di Blitar pada 1929. Masa kecilnya, seperti tertulis dalam buku Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia(1981), lebih banyak dihabiskannya di terminal. 

“Di masa kecilnya ia berkeliaran di terminal bis-kota Malang. Ia menjajakan rokok dan permen kepada para penumpang bis yang baru datang. Ibunya hidup menderita. Tinggal di daerah miskin Gang Jangkrik, Wetan Pasar, Malang." (Tirto.id -Red)

Beranjak Dewasa, Waluyo ikut berjuang melawan Belanda. Kakinya pernah tertembak dan membekas cacat. 

Menurut James Siegel, selama revolusi, Kusni Kasdut ini menyumbang tenaga dengan cara merampok orang-orang Tionghoa dan membagikan hasil jarahannya pada mereka yang terlibat dalam revolusi.

“Kusni, konon, tak tahu menahu dan tak mau tahu nasib hasil jarahannya. Ia menyumbangkan puluhan juta bagi revolusi,” kata Siegel dalam bukunya Penjahat Gaya (Orde) Baru: Eksplorasi Kejahatan Politik dan Kejahatan (2000).


Frustasi menderanya ketika gagal masuk korps tentara gara gara cacat semasa perjuangan.
Tak bisa jadi tentara, tak ada pekerjaan yang bisa menghidupinya padahal ia sudah menikah. Kusni kemudian memilih ke lembah hitam. Bersama teman-temannya. Mohamad Ali alias Bir Ali, juga Mulyadi dan Abu Bakar, mereka membikin kelompok perampok. Kusni didaulat sebagai pemimpin geng mereka.

Kusni kembali merampok. Jika sebelum 1950 ia merampok demi republik, kali ini ia menjadi perampok untuk hidupnya.

Ia merampok seorang hartawan Arab bernama Ali Badjened pada 11 Agustus 1953. Sang hartawan, yang hendak melawan, terbunuh oleh aksi komplotan Kusni ini.

Aksi geng rampok Kusni selanjutnya yang fenomenal adalah perampokan Museum Nasional Indonesia alias Museum Gajah yang di Merdeka Barat, Jakarta. Letaknya tak jauh dari Kantor Kementerian Pertahanan dan tak jauh dari Istana Merdeka, tempat tinggal Presiden Sukarno.

Dengan menyamar sebagai polisi dan memakai Jeep, Kusni dan gengnya memasuki museum pada 31 Mei 1961. Dalam aksinya yang mirip adegan film itu, para perampok menyandera pengunjung. Seorang petugas di museum ditembak dan komplotan Kusni berhasil kabur. Alhasil, 11 butir berlian berhasil digasak. Kusni pun jadi buronan lagi.

Ada lebih dari lima dakwaan hukuman menyeretnya ke kursi pesakitan. Kusni pun menjadi legendaris karena pada masanya dia berhasil tujuh kali kabur dari penjara. Ini mengalahkan rekor lima kali penjahat legendaris Jack Marsene asal Prancis.

Konon ia tidak ditangkap polisi. Pria ini bahkan dibincangkan punya kebal senjata. Makanya ketika itu dia diminta anaknya menyerah bukan tertangkap. Dan pada 16 Februari 1980 dia dihukum mati.

Namun sebelum Eksekusi, Kusni berkenalan dengan seorang pemuka agama Katholik. Mereka berkomunikasi hingga terjadi pertobatan dari balik penjara. Kusni menyandang nama Baptis Ignatius. Nisan kuburnya tak tertoreh nama Kusni Kasdut. Ini sebagai bentuk pertobatan sang spesialis perampok barang antik ini.

Sebagai pengabdiannya, Kusni membuat sejumlah karya seni berupa patung dan lukisan. Salah satunya Patung Salib di Gereja Salib Suci dan Lukisan Gereja Katedral dari gedebok (batang pisang) yang masih tersimpan rapi di Museum Katedral.

Salib seukuran tinggi manusia itu, sampai kini masih berdiri kokoh di satu sudut Gereja yang didirikan oleh YB Mangunwijaya. Sebuah gereja yang berjarak radius tak lebih dari 10 kilometer dari tepi laut di Tanjung Priok. Salib itupun dijadikan umat, sarana berdoa untuk pertobatan dan "museum".

Ini sepenggal sejarah Seni Kehidupan dan Karya Seni Rupa Seorang Kusni Kasdut.

Tugu, Cilincing Jakarta Utara - Juni 2017

TERTUNDANYA BUNGAH MEMBUNCAH

NOMOR Antrian ini mungkin tak ada indahnya untuk sebuah foto status. Tapi nomor antrian inilah yang membuatku bungah. Dada berdebar kencang lantaran duit cash lumayan bakal menebalkan dompet di kantong. Apalagi ketika duit makin tiris memasuki tengah bulan.

Kertas ini kuambil dari mesin nomor antrean Kantor BPJS Ketenagakerjaan Rawamangun, Jakarta Timur. Aku sedikit lega saat datang melihat orang mengantre hanya terhitung jari tangan.

Bagaimana tidak lega, aku datang siang bolong kisaran jam 12.00 WIB. Dalam bayanganku bakal penuh berjubel karena seorang teman mengingatkan datang subuh agar bisa di barisan depan. 

Hari itu aku juga diselamatkan cara pendaftaran online. Pak Satpam di depan kantor sempat menyuruhku pulang karena penarikan BPJS baru dibuka lagi besoknya. Tapi saat kujelaskan melalui online dan dokumen lengkap, Pak Satpam mengantarku masuk dan mengambil nomor antrean.

Ya. Itulah awal mula rasa bungahku membuncah. Awal ketika lolos lapis demi lapis pintu untuk mencairkan 10 persen dana Kepesertaan 10 Tahun, BPJS Ketenagakerjaan.

Ting tong... (bunyi pengeras suara), "Nomor Antrean A026 silakan ke loket Dua"..

Aku yang datang sumringah disambut hangat. Senyum si embak customer service - namanya aku lupa - , menyambutku dan menambah cair suasana. Nomor antrean kusodorkan untuk diambil dan disimpan.

Semua dokumen kuserahkan sesuai persyaratan yang dibutuhkan. Satu per satu diteliti tanpa ada masalah berarti. Si embak kemudian memintaku mengisi nomor rekening dan nama bank. 

Dengan semangat 45 aku torehkan di kertas. Saat menulis, si embak merapikan dokumen sembari berkata," setelah ini saya jelaskan hitung hitungan pajaknya ya pak... sudah tahu?" Akupun menjawab enteng sembari menyodorkan tulisan yang dia minta, "belum."

Disinilah semua bungah yang sumringah mendadak pupus sudah. Tatkala perempuan itu menjelaskan tentang hitung hitungan tanggungan pajak jaminan hari tua.

Ada dua macam potongan pajak, yakni potongan pajak tetap dan potong pajak progresif. Potongan pajak tetap diberikan untuk pengambilan penuh atau 100 persen bagi tenaga kerja yang sudah pensiun. Besarnya 5 persen. Syaratnya tidak pernah mengambil sama sekali selama masa kerja berjalan.

Nah untuk yang progresif inilah yang membuat jantungku sejenak berhenti. Aku yang tadinya senang bakal mendapat uang, malah dibuat berpikir ulang. Progresif dikenakan untuk klaim yang aku ajukan kategori kepesertaan 10 tahun untuj 10 persen dana.

Kesan awalnya memang enak. Setelah 10 tahu kepesertaan BPJS, kita boleh mengambil dana 10 persen. Inilah yang iseng iseng ingin aku ambil buat nebelin kantong di tengah bulan.

Alih alih itu, pajak yang harus kutanggung kelak membuat rugi membengkak. Pajaknya dikenakan bertahap sesuai angka simpanan akhir di masa pensiun. Saat pengambilan memang tidak kena pajak. Tapi saat pengambilan penuh akan diakumulasi semuanya. 

Pada simpanan kurang dari 50 juta akan dikenakan 5 persen, lalu pada simpanan 50 - 250 juta akan dipotong 15 persen, lalu 250 - 500 juta.. naik lagi dan seterusnya... Jadi kalau simpanan akhir tembus angka 400 juta misalnya, ya tiga potongan pajak itu akan diakumulasi.

Gede kan?? Gimana nggak bengong dan jantung mendadak macet. Lah yang diambil gak seberapa, nanti pas akhir pensiun potongannya banyak. 

"Jadi gimana Pak, apakah mau dilanjut?" kata si embak.

"Pinter juga ya aturan ini dibuat kesannya menyenangkan, tapi sebenarnya mencekik," timpalku. Perempuan itupun menjawab dengan senyuman. "Kalau tidak penting amat dan ada cara lain untuk menutup kebutuhan uang, ada baiknya dipikirkan ulang, pak." 

Tanpa pikir panjang, aku batalkan pengajuan klaim tersebut.

Kecewa. Pastinya. Tapi itu tak sebanding dengan pengetahuan yang kuterima dari seorang customer service itu. Toh aku memang tak terlalu kepepet untuk ambil uangnya. Aku hanya kepincut kisah seorang teman yang sudah berhasil memboyong duit klaim ini. Kisahnya, memang dia bercerita indahnya. Maklum saja, dia memang butuh duit. Jadi barangkali tak peduli dengan potongan pajak tersebut. 

Kuambil lagi semua dokumen. Kumasukkan ke dalam tas. Aku berpamitan dengan si embak dan pak satpam yang menyambutku di awal. Hujan rintik mengguyurku saat melenggang keluar kantor para pensiunan itu. Basah dan mendung justru membuatku teduh dan tenang. 

Rezeki sudah ada yang mengatur. Rezeki juga tidak akan pernah tertukar... Biarlah yang ini kelak untuk hari tua.. 

Rawamangun, Selasa 110717.

Jumat, 07 Agustus 2015

Bersepeda Membawa Nikmat

CARA BERSEPEDA YANG BAIK DAN BENAR 

Beberapa tahun belakangan ini, olahraga bersepeda semakin menjadi tren terutama di masyarakat perkotaan yang sudah jenuh dengan polusi dan kemacetan lalu lintas. Berbagai komunitas bersepeda tumbuh dengan pesat mulai dari sepeda balap, fixie, MTB, BMX, dan masih banyak lagi. Anda mungkin termasuk salah satu penggemar aktivitas bersepeda.

Para pakar yang berbicara dalam berbagai forum komunitas ditinjau dari segala aspek media dan teknis. Hal - hal berikut perlu diperhatikan dalam bersepeda sebagai berikut :

1. Pengendara harus minum air dam mineral ketika bersepeda dan sesudahnya. Untuk mengganti kalori yang dikeluarkan.
2. Latihan dilakukan secara bertahap, intensif dan teratur. disesuaikan dengan kondisi daya tahan tubuh.
3. Tidak melakukan latihan yang bersifat berlebihan, overdossis yang mengakibatkan kelelahan yang sangat.
4. Jarak tempuh yang disarankan untuk olahraga yang bersifat kebugaran adalah dibawah 20 kilometer, dianjurkan untuk latihan rutin untuk menjaga stamina sejauh 15 km saja dan dilakukan tidak lebih dari 3 kali seminggu.
5. Pemanasan mutlak dilakukan sebelum melakukan aktivitas bersepeda.
6. Jarak tempuh yang dilakukan untuk berolah raga yang ideal antara 40 km sekali jalan. Untuk mereka yang berusia 40 tahun ke atas, jarak tersebut idealnya ditempuh dengan kecepatan antara 22 - 27 km/jam. Bagi yg muda bisa lebih cepat lagi.
7. Kondisi tubuh harus dalam keadaan fit saat bersepeda, tidur yg cukup sebelumnya.
8. Posisi sadel harus lebih tinggi diatas kemudi sehingga ketika lengan memegang kemudi, otot tidak terlalu tegang dan bisa bergerak dengan leluasa.
9. Kaki bisa direntangkan lurus, sehingga telapak kaki menyentuh pedal dalam posisi rata.
10. Gunakan ujung kaki sebagai tumpuan untuk mendapatkan tenaga yang maksimum. Meskipun tubuh dalam posisi membungkuk, kepala harus tegak ke depan sehingga dapat melihat ke arah depan dengan baik.  Gunakan alat alat pengaman pada saat berkendara seperti helm dan lain-lain.


===========================================

10 Tips Bersepeda Lebih Baik dan Lebih Cepat

1.       Latihan Ketahanan Kardiovaskular
Pesepeda jarak jauh sangat membutuhkan latihan ketahanan kardio karena berkaitan dengan kemampuan menjaga energi dan performa otot selama berjam-jam bersepeda. Beberapa jenis latihan yang dimaksud adalah Long Slow Distance Training, Pace/Tempo Training, Interval Training, Circuit Training, dan Fartlek Training.
2.       Latihan Kekuatan Sprint
Anda pasti sering melihat para atlet sepeda memacu sepeda dengan kecepatan tinggi saat menjelang finish padahal sebelumnya kecepatan mereka sedang. Kemampuan tersebut memerlukan program latihan yang menghentak otot (Explosive exercise) untuk meningkatkan tenaga saat sprint mendadak. Jenis latihan yang disarankan adalah Squat dan Stair running (naik turun tangga).
3.       Karbohidrat Kompleks Dan Minuman Isotonik
Sebelum pertandingan, para atlet sepeda profesional mengkonsumsi karbohidrat kompleks yang lepas berkala untuk menjaga energi mereka tetap stabil dan menkonsumsi minuman berisotonik saat pertandingan untuk mensuplai cairan tubuh yang hilang akibat banyak berkeringat. Tingkatkan Tenaga & Stamina Serta Cegah Tubuh Anda Dari Dehidrasi Di Sini!
4.       Pastikan Jenis Sepeda Anda Sudah Tepat
Apapun jenis sepeda Anda, memilih sepeda yang cocok bagi Anda sangat penting untuk kenyamanan dan efisiensi bersepeda. Jika Anda merasakan sakit leher, punggung, lutut, atau mati rasa pada tangan atau kaki, maka bisa jadi sepeda atau komponen sepeda tidak cocok bagi Anda. Memilih sepeda yang tepat dapat meningkatkan efisiensi mengayuh dan aerodinamika sehingga membuat Anda mampu bersepeda lebih cepat.
5.       Jangan Lupakan Peregangan
Bersepeda melibatkan pergerakan berulang yang membutuhkan kelenturan dan keseimbangan otot yang prima. Karena itu peregangan otot sebelum bersepeda sangatlah penting. Pesepeda umumnya mengalami tegang otot hamstrings, hip flexors dan chest jika tidak melakukan peregangan sebelumnya.
6.       Latih Keterampilan Mengendalikan Bersepeda
Para atlet sepeda sangat ahli dalam mengendalikan sepedanya. Mereka bisa melaju dengan halus di tikungan, stabil saat turunan, dan selalu waspada akan berbagai kondisi jalan. Mereka bersepeda dengan perkiraan dan patuh terhadap aturan di jalan. Ikutlah pelatihan bersepeda atau bergabunglah dengan klub sepeda profesional untuk belajar keahlian mengendalikan sepeda.
7.       Jangan Bersepeda Sendirian
Bersepeda dengan partner atau tim sepeda sangat baik untuk meningkatkan keahlian Anda bersepeda. Strategi dan taktik dari sebuah tim sepeda sangat penting terutama saat pertandingan. Bergabunglah dengan klub sepeda yang sesuai dengan tingkat keahlian Anda.
8.       Istirahat Yang Cukup
Seorang atlet sepeda profesional sekalipun akan bersitirahat yang cukup untuk pemulihan kembali kondisi tubuhnya demi mencapai kembali performa puncak saat kembali bersepeda. Peregangan, pemijatan, dan tidur adalah bagian penting untuk pemulihan tubuh. Perhatikan tanda-tanda awal tubuh Anda dan segeralah beristirahat sebelum overtraining.
9.       Cross Training Saat Off Season
Latihan yang sama setiap hari dapat menyebabkan kondisi letih, stagnan, dan bosan. Jika bersepeda adalah olahraga utama Anda, melakukan berbagai jenis olahraga dan latihan lain saat off season sangatlah penting untuk menjaga kelenturan dan kelenturan otot, serta mencegah berulangnya cedera.
10.   Gunakan Kostum, Sepatu, Dan Helm Khusus Bersepeda

Bagi pemula, awal memakai kostum khusus bersepeda akan terasa aneh, namun kostum tersebut diciptakan untuk mendukung performa bersepeda. Kostum yang ketat bertujuan untuk meminimalisir hambatan angin. Warnanya yang menyolok membuat lebih mudah terlihat di jalan. Sepatu khusus bersepeda sangat membantu efisiensi bersepeda dan meningkatkan keselamatan. Lebih lagi helm khusus bersepeda hukumnya adalah wajib. Tidak ada atlet balap sepeda yang diperbolehkan bertanding tanpa mengenakan helm.

Yuk Bersepeda....








Tahun 2015 ini menjadi tahun pertama, aku kembali menggunakan sepeda. Kalau dulu, aku bersepeda untuk moda transportasi ke sekolah. Kini, sepeda yang kugunakan untuk menjaga kebugaran dan kesehatan. Tepatnya Olahraga. Dan bersepeda menjadi olahragaku kedua setelah lari yang sudah aku lakukan dua tahun terakhir. Sejumlah event telah kulewati. (Baca: Lari Membawa Nikmat)

Bersepeda adalah sebuah kegiatan rekreasi dan olahraga. Bersepeda juga bisa menjadi salah satu moda transportasi darat.  Banyak pesepeda yang melakukan kegiatan di berbagai macam medan. Bisa di bukit-bukit, medan yang terjal, maupun di medan datar untuk sekedar berlomba kecepatan.
Para olahragawan bersepeda profesional, namanya balap sepeda. Sementara orang yang mempergunakan sepeda sebagai moda transportasi rutin dapat disebut komuter. 
Penggunaan sepeda sebagai moda transportasi rutin, tidak hanya dilakukan pekerja di sektor non-formal, tetapi juga pekerja di sektor formal. Para pekerja di sektor formal yang menggunakan sepeda sebagai moda transportasi, kerap menyebut dirinya komunitas Bike To Work Indonesia (B2W Indonesia).
Selain para pekerja, sepeda juga banyak digunakan oleh anak sekolah. Selain karena menggunakan sepeda tidak membutuhkan biaya tambahan. Bersepeda juga dapat dilakukan di jalan yang kurang bagus sekalipun. Bersepeda bagi anak sekolah juga dapat mengurangi bahaya kecelakaan dalam berkendara.

|| eduardus karel dewanto ||

Kamis, 09 Juli 2015

Arti 'Good Eye' dalam Fotografi


http://images.detik.com/content/2015/07/10/1279/fotografer.jpg 


Kadang-kadang kita mendengar komentar seperti 'komponya bagus' atau 'matanya bagus'. Di dalam fotografi, memiliki mata yang bagus (good eye) artinya bisa mengenali hubungan antara elemen visual seperti titik, garis, bentuk di suatu pemandangan dan mengetahui posisi kamera yang paling bagus dan mengunakan jarak fokus lensa yang pas untuk membuat foto tersebut.

Selain itu, memiliki mata yang bagus berarti mampu mengenali dan mengidentifikasi sifat dan arah cahaya dan efeknya terhadap subjek foto. Tidak semua cuaca sama, di saat mendung, sifat cahayanya lembut, di saat cerah, sifat cahayanya keras.

Selain foto pemandangan, foto orang/portrait juga membutuhkan mata yang jeli. Posisi cahaya (matahari atau lampu studio) yang tidak tepat akan membuat foto menjadi tidak enak dipandang. Fotografer yang memiliki mata yang bagus akan mampu melihat bentuk wajah subjek foto dan mengunakan cahaya yang tepat. Di jalanan, fotografer yang bermata bagus dengan cepat dapat melihat adegan atau subjek foto yang menarik di kondisi jalan yang bising dan ruwet.

Saat memotret di pemandangan yang indah dan cahaya dengan warna-warna yang menarik, misalnya pantai saat matahari tenggelam, hampir setiap orang akan dapat mendapatkan foto yang menarik, terutama jika mengenal teknik dasar fotografi dan mengetahui cara mengunakan kamera dengan baik.

Tapi, tantangannya justru adalah saat cahaya dan pemandangan tidak seindah yang diharapkan. Di saat itu, fotografer yang memiliki mata yang bagus akan menghasilkan foto yang jauh lebih menarik.

Saya percaya bahwa 'good eye' bukan didapatkan dari lahir saja, setiap orang bisa mempelajarinya. Memang, ada orang yang lebih berbakat dan akan belajar dengan cepat, sedangkan ada yang butuh waktu lebih lama. Meskipun berbakat, perlu banyak belajar dan berlatih. Berbakat atau tidak, tanpa latihan dan pengalaman, hasil foto tidak akan sebaik yang diharapkan.



Caption: Foto ini saya buat di sebuah kampung nelayan di pinggir danau Tonle Sap di Kamboja. Di sini saya melihat hubungan antara satu anak dengan yang lain seperti menyusun garis diagonal. Juga memberikan kesan sequence (urut-urutan) dari anak yang berdiri di pinggir danau, masuk ke danau, berlari ke tengah dan kemudian berusaha menangkap ikan yang terpengkap di permukaan air danau yang tengah surut.

Mau konsultasi berbagai hal seputar fotografi? Kirim saja pertanyaan ke Klinik IT detikINET di link berikut.

Yuk, belajar fotografi, editing dan ikut tur fotografi dengan infofotografi.com.

Kamis, 28 Februari 2013

INILAH POTRETMU SENJA

Cerita seorang sahabat..

Pagi itu, klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 pagi, seorang pria berusia 70-an tahun datang untuk membuka jahitan pada luka ibu jarinya. Seorang perawat menyiapkan berkas dan memintanya menunggu. Alasannya para dokter masih sibuk. Si Kakek itu diperkirakan bisa ditangani dokter satu jam kemudian.

Pria sepuh itu tampak gelisah. Di mondar-mandir di ruang tunggu sembari sebentar-sebentar matanya tertumbuk melirik jam di tangannya.

"Bapak terburu-buru ya....?" tanya si perawat penuh iba. Pria itupun menyahut cepat.... "iya..."

Sejenak perawat itu berpikir perlu membantu pria yang sudah uzur tersebut. Dia berpikir pekerjaan untuk pasien ini tak terlalu sulit. Bisa dilakukan olehnya sendiri, tanpa harus menunggu dokter. Apalagi, dia masih punya banyak waktu luang untuk si kakek tersebut. Bergegaslah dia menghampiri salah satu dokter yang dinas hari itu di tengah kesibukannya. Pak dokterpun menyetujuinya.

Si Perawat akhirnya menangani si Kakek. Dan, adalah sepenggal percakapan saat perawatan.

"Kenapa bapak terburu-buru, apa ada janji lain?" tanya si perawat.

"Tidak... Saya hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama isteri saya," sahut Pak Tua enteng.

Kakek itupun bercerita, bahwa setiap dua hari sekali selalu menyempatkan makan siang bersama isterinya yang dirawat di rumah jompo. Sang isteri sudah dirawat di panti sejak beberapa waktu lalu, saat mulai mengidap penyakit Alzheimer.

"Apakah isteri bapak akan marah bila datang terlambat,' si perawat bertanya penuh ingin tahu.

"Isteri saya sudah tidak lagi mengenali saya sejak lima tahun terakhir," jawab si Kakek penuh percaya diri.

Sontak si perawat itu terkejut dan spontan terlontar dari mulutnya, "kalau isteri bapak sudah tidak mengenali lagi kenapa masih pergi ke sana ?"

Satu tangan si Kakek yang sedang tak dirawat, menepuk pundak perawat muda tersebut sembari tersenyum. 

"Dia memang tidak mengenali saya, tapi saya masih mengenali dia bukan..."

Si perawat mendadak bungkam seribu bahasa. Matanya menatap si Kakek dengan berkaca-kaca. Rampung perawatan, si Kakek itupun berpamitan. Sementara si perawat tak bisa mengalihkan pandangannya ketika pria sepuh itu berlalu hingga tak terlihat lagi.

Sepenggal kisah ini betul-betul membuat perawat itu merinding. Cinta Kasih seperti itulah yang banyak didambakan semua orang dalam hidupnya.Cinta sesungguhnya tdk bersifat fisik atau romantis. Cinta sejati  adalah menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan yangg tidak akan pernah terjadi.

Pengalaman ini menyampaikan satu pesan penting: Orang yang paling  berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, mereka hanya berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki. Hidup bukanlah  perjuangan menghadapi badai, tapi bagaimana tetap menari di tengah  hujan.

Jakarta, 28 Februari 2013

Selasa, 26 Februari 2013

"Teguran" di Hujan Rintik

Jakarta, Gading Griya Lestari, 29 Januari 2013.

Pagi itu mendung tampak menggantung di sekitar rumahku. Jadwal pagi itu menjemput anakku pulang sekolah pukul 10.00 WIB. Berangkat dari rumah setengah jam lebih awal. Kucomot helm dan kupasang di kepala. Kunci motor kucolok di kontak motor Pulsar Bajaj milikku. Jreennnnngggggg.... motor pun menyala, motor kesayanganku pun melaju.

Sepenggal perjalanan telah kulalui. Hujan rintik menggelitik saat berkendara. Kian lama, hujan kian tak bisa diajak kompromi. Aku memutuskan balik lagi ke rumah untuk berganti mobil. Motor kuputar haluan kembali ke rumah. Meski kian basah terguyur gerimis, badan tapi tidak kuyub. Kurang lebih 50 meter lagi sudah masuk kompleks rumahku.

Tapi tiba-tiba...... ciiiiittttttt.... rem mendadak kutekan. Sebuah mobil kijang yang seolah memberiku jalan untuk menyalip, mendadak memepet untuk melaju. Dan... roda motorku selip. Aku terjatuh ke arah kanan hingga dua kali badan menghantam ke tanah. Gedebummmm... Bahu menjadi penyangga tubuhku. Posisi jatuh yang tak lazim. Ya, aku jatuh di atas separator pembatas dua ruas jalan yang penuh rumput dan pepohonan. Sementara motorku terseret dan berhenti tak jauh dariku di atas aspal.

Aku dalam kondisi sadar dan bangun dari terkapar jatuh. Tanganku terasa susah diangkat. Satu tangan kugunakan mengangkat tangan kananku yang kebas. Sambil berdiri kulihat dua orang baik membantuku. Satu memapah berdiri, dan satu lagi mendirikan motor. Mereka tak tahu kalau aku kesulitan menggerakkan tangan dan langsung pergi. Tapi pertolongan merekan sungguh berarti, ketimbang pengemudi mobil sial yang langsung ngacir. Aku sendirian tergopoh susah meraih motorku. Ngilu terasa sakit di bahu lenganku. Motor kunyalakan dan melaju motorku hingga ke rumah yang berjarak sekitar lima menitan.

Saat perjalanan, aku melintas di depan seorang teman. Pagi harinya, dia berbincang di rumahku. Aku tersenyum menahan sakit untuk menyapanya. Dia sungguh tak tahu. Sampailah aku di rumah. Badan kini menjadi basah kuyub. Tangan kian sakit saat berusaha melepas bajuku. Kupegang tangan dan memar di sekujur bahu. Semua bengkak mengeras. Sial pikirku. Aku tak jadi jemput anakku. Kuminta ibunya yang mendampingi sekolah, pulang menggunakan kendaraan umum. Dan aku memutuskan tidak ke kantor hari itu, untuk memeriksakan ke dokter.

Setiap hari sudah tugasku mengantar dan menjemput anakku sekolah. Aku selalu menggunakan motor karena lebih lincah menyelip dan menyalip antrean mobil yang amat padat di rimba Beton Batavia. Apalagi bila anakku kesiangan bangunnya. Dan hari itu akhirnya aku harus menerima nasib, jatuh dari motor, saat hendak mengganti mobil karena hujan datang.

Begitulah kisahku di hari naas. Lalu selang kurang lebih sepuluh menit, isteri dan anakku tiba di rumah. Mereka melihatku terbaring di kamar hanya dengan hanya dibalut celana pendek. Sementara tangan dan bahuku penuh memar tanpa lecet. Aku tidak langsung ke dokter. Isteriku minta menunggu orang tuanya datang karena ingin mengantar ke rumah sakit. Maklum, ibu mertua seorang perawat. Jadi tidak mau anaknya salah jalan untuk mencari pengobatan.

Jam sebelas siang lebih sedikit semua sudah berkumpul. Mertua datang bersama kakak iparku. Betul-betul riuh seolah ada bencana besar. Kami kemudian berangkat ke RS Gading Pluit. Rumah sakit ini kupilih karena menanggung asuransi kesehatanku. Setiba di rumah sakit, aku langsung masuk IGD dengan tertatih-tatih. Perawat memintaku berbaring di bilik penanganan darurat. Dokter jaga datang. Diperiksa dan disuruh menunggu untuk rontgent. Aku susah bangun duduk untuk posisi rontgent. Petugas mengizinkanku sambil berbaring.

"Gakpapa, "katanya. Selesai rontgent, aku kembali ke bilik sambil didorong dengan pembaringan. Sesaat kemudian dokter memanggilku. "Bisa bangun jalan, ke ruang saya...."kata dia kusambut anggukan.

Di meja dokter tertempel foto hasil rontgent pada papan. Dokter menjelaskan kondisiku seperti dalam foto tersebut tidak ada masalah. Semua utuh dan kemungkinan hanya memar otot dan tulang.

"Syukurlah... semoga tidak apa-apa," kataku.. Lalu dokter memintaku datang lagi mengambil hasil analisa radiologi.

"Oh..ini kesimpulan dokter, bukan hasil analisa,"gumamku sembari menerima selembar amplop negatif film rontgent. Tapi dokter menyarankan konsultasi ke dokter ahli bedah tulang untuk kepastian hasil analisa radiologi. Aku pun menyahut cepat, "Baik dok, kalau gitu hasil rontgent ini ditinggal ya."

Sore hari pukul 17.00 WIB. RS Pluit Gading. Kuterima sodoran perawat selembar hasl analisa ahli radiollogi.

"Dicurigai ada fraktur dan soft tissues sweilling pada tulang skapula," begitulah nukilan tulisan kesimpulan paling bawah dari analisa tersebut.

Rupanya dugaan dokter awal memang kurang jitu. Namun sudah benar dia menyarankan konsultasi ke dokter ahli. Dan sore itu, aku memutuskan untuk menemui dokter ahli yang dinas malam itu. Dr. Hamdani.

"Patah Skapula dan pembengkaan jaringan lunak," kata dokter Hamdani sambil melihat-lihat foto rontgent milikku yang ditempel di dindingnya.

 "CT Scan ya seluruh bagian paru dan lengan ya... biar jelas letak dan bentuk patahannya..," lanjut dokter.

Malam itu juga aku ambil CT Scan dan esoknya hasil foto kuambil sekaligus kuserahkan ke dokter saat kontrol hari berikutnya. "Hmmm.. patah benar kan, kelihatan...," kata dokter sambil menunjuk foto skalpulla.


Dokter kemudian memberikan masukan untuk proses pengobatan dan penyembuhan. Satu pengobatan konservatif dan operasi dengan memasang pen pada tulang yang patah. Namun, dokter menganjurkan untuk konservatif, dengan mengkonsumsi obat dan vitamin, serta susu, selama proses pertumbuhan tulang normal selama enam bulan.

"Hah.... enam bulan dok," spontan aku menimpali dokter.

Bukan waktu yang pendek proses penyembuhannya... aku harus menggendong tanganku selama kurang lebih enam bulan.

Dokter kemudian memberikan penjelasan alasan tidak melakukan operasi. Tulang yang patah berada pada bagian yang dibungkus otot gerak dan syaraf penting bagi tubuh. Operasi memang bisa dilakukan, tapi amat beresiko. Proses operasi bakal lama dan ekstra hati-hati. Bila terjadi kesalahan bisa berakibat fatal...

"Jadi, pengobatan konservatif aja ya....," kata dokter kembali menawarinya. Kusambut saran itu dengan anggukan dan menyerahkan semua keputusan kepada dokter. Dalam hatiku, ternyata tak seperti yang banyak dikatakan banyak orang, kalau dokter selalu hantam kromo menyarankan operasi.

Akhirnya pilihan kuambil untuk mengikuti jalan medis. Aku yakin proses penyembuhan itu yang paling utama adalah keyakinan dari individu sendiri. Sehingga cukup kutampung saran banyak orang untuk diobati ke ahli patah tulang, seperti dukun, cimande, sensei, dan sebagainya.... Pertimbangannya cukup panjang. Hingga harus kulakukan riset dan wawancara tentang keduanya. Pilihan inipun bagian dari sebuah keyakinan dan pengetahuan.

Sebulan aku harus beristirahat di rumah atas perintah Pak Dokter. Aku minta untuk tetap bekerja, tapi hardikan Pak Dokter yang kuterima. Alasannya, tulangku itu tempat rawan gerak. Rasa bosan terus membelengguku. Bersyukur satu dua teman telah menghibur datang ke rumah. Mereka memberikan suasana baru di tengah aku harus teronggok dengan aktivitas menjemukan. Support dari pimpinan kantor, teman-teman dan handai tolan bergulir dari jejaring sosial dan telepon genggamku.

Hikmah pun kuambil, dengan istirahatku ini mungkin menjadi teguran buatku untuk lebih dekat dengan keluarga. Setiap hari, aku ditegur supaya tahu perkembangan dan keseharian istri dan anakku bila aku pergi bekerja. Disinilah sepenggal kisah yang sangat membuatku menitikkan air mata. Bahkan, ayahku dari kampung halaman pun tak ketinggalan datang ke Jakarta untuk menengok dan mengasuh anak-anakku. Inilah semangatku untuk sembuh cepat.

Sudah hampir sebulan berlalu. Tiga kali sudah aku bolak-balik ke dokter. Tangan sudah mulai membaik. Setidaknya, lengan dan bahu sudah mulai bisa kugerakkan, meski tetap harus digendong dan belum boleh untuk beban. Dokter juga mulai mengizinkan kembali beraktivitas, sembari terapi menggerakkan otot bahu yang lama beristirahat. Perjalananku masih panjang....

Get Well Soon bro... Thanks atensi dari keluarga, sahabat dan handai taulan semuanya......

Kamis, 31 Januari 2013

Ibu Kota Terendam Banjir

Petaka Pembawa Makna

Petang itu, Rabu 17 Januari 2013.
Lelah menghampiriku, setelah seharian bekerja mengemas berita banjir Jakarta. Malam itu, baru sebagian Jakarta terendam air kiriman Bendung Katulampa. Banjir merendam ratusan rumah warga Kampung Pulo, sementara saya dan teman-teman punya kewajiban mewartakannya. Ini adalah tugas dan panggilan kami sebagai juru warta.

Jarum jam berjalan, menunjuk waktu untuk kembali ke rumah. Sedikit terlambat malam itu tiba di gubuk kecil sederhanaku di seberang Pegangsaan Dua. Lelah dan penat berkecamuk dalam tubuhku. Tapi semua itu sirna tatkala tiba di rumah, dua anakku masih bercanda dan menghampiriku. Sejenak bercanda setelah membasuh tubuh, tak terasa malam kian larut. Kami semua pun terpejam oleh lelah bahagia.

Pagi, Kamis 18 Januari 2013
Pagi pukul 06.00 Wib, sayup-sayup derap hujan menyapaku. Saat itu pula kudengar suara lain... "Pak, anakmu masuk sekolah nggak, hujan deres," kata istriku. Mataku masih berat seolah lengket. "Hujan ya ?" Sahutku. Sejenak kubangun dari pembaringan. Keluar, dan melongok ke jendela. Gelap gulita. Pagi tak biasa. Langit terselimuti mendung. Air menetes deras, menghantam tanah. Mengingat hari itu, anakku baru hari kedua masuk sekolah untuk penyesuaian setelah libur, aku memutuskan anakku izin dulu. Pagi itu dua anakku pun, yang masih berusia lima dan dua tahun kuizinkan di rumah saja. Mereka kubiarkan tetap tidur.

Di tengah hujan deras itulah, aku memutuskan menemani mereka istirahat. Dan aku terlelap. Seolah baru sekejap, sebuah suara mengagetkanku. "Bapak-bapak, bangun... bangun... banjir...banjir....," istriku panik sembari menggoyang-goyang tubuhku yang betul-betul lagi pulas hari itu. Aku terbangun. Tak sadar aku melonjak dan berlari menuju pintu, lantaran kaget. "Ya ampun...," aku langsung meraih sekop air. Kuserok air keluar dari rumah. Tapi apa daya, air lebih cepat masuk ketimbang keluar. Aku langsung mengalihkan pikiran dan mata ke barang-barangku.  Sofa, kursi, mainan anakku, surat-surat penting, alat-alat elektronik, baju dan kasur, langsung kubereskan. Semua kunaikkan lebih tinggi agar aman.

Anakku masih tidur. Isteriku menerima kabar dari sekolah, kalau sekolah diliburkan. Memang kabar di televisi, pagi itu banjir merata di Jakarta dan sekitarnya tanpa kecuali. istana Presiden pun tergenang banjir. Jam terus bergerak hingga siang. Lega menghampiriku. Air tak lagi meninggi. Seatas mata kaki. Tapi lemari-lemari plywood dan kulkas di rumah yang terendam semata kaki menjadi kekhawatiranku. "Semoga gak naik lagi..," batinku. Hati masih tenang meski air menyesaki rumah dan jadi ajang bermain dua anakku, yang sudah terbangun. Listrikpun masih menyala. Setidaknya, masih ada hiburan nonton tv sembari menunggu air surut.

Pukul 14.00 WIB, sekitar tujuh jam sejak air masuk menyapa rumahku, listrik di rumah menyusul padam. Mendadak sekitar rumahku menjadi ramai meski banjir. Hujan pun mulai reda. Orang-orang keluar karena gerah di dalam rumah. Mereka berbincang di tengah air banjir, bercerita tentang kondisi sanak dan saudara. Bahkan sebagian terlihat mengusung-usung sejumlah barang miliknya untuk pergi mengungsi. Hotel, apartemen, atau rumah sanak famili yang selamat.

Banyak ragam warga sekitar menyikapi banjir. Ada pula yang tenang, seolah sudah biasa. Mereka kongkow di pos sekuriti dengan yang lainnya, seperti hari-hari biasa. Mereka duduk di bangku dan meja yang terendam banjir sepaha orang dewasa. Mereka menikmati suasana sembari ngopi dan sebagian menghabiskan rokok di tangan.

Naluri jurnalistikku tergerak. Kurekam semua suasana di situ. Rencananya, gambar itu akan kukirim ke kantor melalui email. Tapi rupanya, listrik tak kunjung hidup. Hingga pukul 18.30, barulah kejap nyala lampu terasa. Dan saat itulah aku sudah disibukkan mengurusi rumah yang terendam. Video tadi tak jadi kukirim ke kantor. Aktivitas di rumah mulai berdenyut lagi. Tv bisa ditonton, komputer bisa menyala. Anak-anak sedikit terhibur. Sementara mataku masih tertumbuk pada genangan air di rumah. "Aduh, ini barang-barang bisa runyam kalo gak surut," batinku.

Malam kian larut. Anak-anakku sudah terlelap tidur. Beruntung mereka tidak rewel selama mata belum terpejam tidur. Mereka malah menikmati air seolah menjadi sahabat bermain. Mereka juga disibukkan dengan televisi yang cukup menghibur mereka dengan acara anak-anaknya.  Sementara malam itu, aku tak mudah memejamkan mata. Hingga pukul 02.30 WIB aku baru tertidur. Itupun di kamar depan sendirian, karena bersiaga. Hujan yang berulang kali reda dan deras datang tiba-tiba membuatku khawatir. Tapi lelah tak bisa kupungkiri. Aku terpejam mata hingga pagi.

Pagi, Jumat 19 Januari 2013
Saat terjaga, rupanya air masih menggenang, namun hujan sudah reda. Aku sedikit lega, meski cuaca di luar tidak bersahabat. Mendung gelap gulita. Sesaat kemudian sekitar pukul 09.30, terang sudah mulai menyapa. Aku meminta izin kepada isteri untuk berangkat ke kantor, meski rumah masih terendam air. Istriku mengizinkannya. Kusambar sepeda gunung, untuk keluar rumah mensurvei jalur keluar komplek menju kantor. "Nggak ngantor, pak... ?" tanya Ah Siong, tetangga rumah. Dari percakapan dengan orang inilah aku kemudian semakin yakin, jalur menuju kantor aman. Dan berangkatlah aku ke kantor. Sembari merampungkan tugas di kantor, kabar baik pun datang dari rumah. Isteri bilang, air sudah surut.

Malam hari sepulang kerja, aku langsung ganti baju, dan menyiapkan semua peralatan bersih-bersih rumah. Mengepel, menyemprot, dan mengangkut-angkut barang-barang' serta merapikannya. Tak cukup sehari merampungkannya. Sepekan pekerjaan itu barulah rampung. Sementara hati masih berdebar, mengingat Jakarta masih waspada hingga tengah Februari 2013.

Di sini makna hidup betul-betul kudapatkan. Betapa beratnya para korban banjir. Sementara di satu sisi, para juru warta bersuka cita mengabarkannya, demi komoditi berita. Tapi, ya begitulah hidup. Harus ada simbiose mutualisma. Setidaknya, dengan mengalaminya, seorang jurnalis akan lebih empati dan berhati-hati untuk mengabarkan suatu bencana. Disitulah nilai jurnalisme, dan tujuan mengabarkan sebuah bencana bisa bermanfaat. Bukan sekadar mencari sensasi dan menarik banyak penonton. Tapi membantu penonton, khususnya para korban bencana, bisa mendapatkan informasinyang akurat dan benar.

The End

Kamis, 22 November 2012

Sepenggal Kisah Jokowi...

Pak Jokowi, Hajar Saja Lurahnya!


TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWANGubernur DKI Jakarta Joko Widodo.

JAKARTA, KOMPAS.com - Ada saja pengalaman-pengalaman unik yang dialami Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, baik sebelum menjadi gubernur maupun sesudahnya. Kisah-kisah unik nan lucu itu pula yang kerap ia ceritakan dan menjadi perhatian warga yang mendengarnya.

Hal itu juga terjadi ketika Jokowi menjadi pembicara dalam acara Indonesia Creative Power, Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) 2012 di Epicentrum Walk, Jakarta Selatan. Selain Jokowi, Fiona Kerr dari University of Adelaide Australia juga menjadi pembicara bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia Mari Elka Pangestu.

Berbeda dari dua narasumber lain, yang menyampaikan presentasinya dengan duduk, Jokowi memilih berdiri dan menceritakan pengalaman kreatifnya. Jokowi mengatakan, kalau ia duduk justru tidak bisa lancar menceritakan pengalamannya.

"Dua puluh tiga tahun saya bekerja di barang-barang seperti yang tadi saya duduki, jadi agak kreatif sedikit-sedikit. Kemudian, tujuh tahun lalu, saya kecelakaan menjadi Wali Kota, nah itu mulai enggak kreatif," kata mantan Wali Kota Solo dan pengusaha mebel tersebut, Kamis (22/11/2012).

Setelah itu, kalimat demi kalimat mengalir dalam cerita Jokowi. Sewaktu menjadi Wali Kota Solo, misalnya, ia mengisahkan bahwa waktu itu ia menghadapi masalah dengan ajudannya yang berpostur lebih tinggi, besar, dan ganteng. Karena waktu itu Jokowi masih suka mengemudi sendiri, maka setiap kali hadir dalam acara-acara undangan, para tamu justru memberikan perhatian lebih besar kepada ajudannya.

"Problemnya, tamu-tamu yang datang ke saya, kok malah yang disalami ajudan saya, bukan saya. Haduh... satu bulan saya masih kuat, dua bulan enggak kuat, tiga bulan tambah enggak kuat, kemudian muncul ide kreatif saya," kata Jokowi, yang waktu itu berbobot 54 kg.

Jokowi kemudian mengganti ajudannya itu. Kali ini ia memilih ajudan dengan paras dan perwatakan tidak seperti sebelumnya. Yang lebih jelek, katanya. Mendengar itu, para pengunjung dalam acara itu sontak tertawa. "Selama tujuh tahun, akhirnya saya selamat karena yang disalami saya terus," ujarnya.

Ceritanya kemudian beralih ketika Jokowi mulai ke Jakarta dan menjadi gubernur. Menurutnya, satu hal kreatif yang pernah dilakukannya adalah saat ia melakukan inspeksi dadakan (sidak) ke kantor kelurahan dan kantor kecamatan di Jakarta Pusat pada 23 Oktober 2012 atau seminggu setelah ia dilantik jadi gubernur.

Ia menuturkan, ketika itu ia datang ke satu kantor kelurahan sekitar pukul 07.30. Alih-alih menemui lurah setempat, Jokowi justru melihat kursi-kursi di kantor tersebut masih dipasang terbalik atau ditidurkan. Ia pun hanya menemui tiga orang pegawai di kantor kelurahan itu.

"Kemudian, saya perintahkan untuk membuka tempat pelayanan. Terus satu orang itu membukahandle pintu yang masih terkunci, saya tunggu saja. Satu handle kunci tak tunggu enggak kebuka-buka. Tak tunggu sudah hampir tiga gerombol kunci masih juga belum kebuka, ya sudah saya tinggal saja ke kelurahan yang lain," kata Jokowi. Riuh tawa audiens pun kembali membahana.

Sama seperti kelurahan yang ia datangi pertama kali, kejadian yang sama juga ia temui di kantor kecamatan dan kelurahan selanjutnya. Menurutnya, pagi itu baru separuh pegawai yang hadir di kantor lurah, demikian pula di kantor kecamatan. Camat dan lurahnya pun tidak ada sehingga Jokowi gagal bertemu dengan mereka.

"Pegawai kecamatan itu mencoba kreatif. Dia menaruh tulisan 'Buka', ya saya senang. Tapi saya enggak kalah kreatif. 'Ini tulisannya buka, tapi kok saya lihat-lihat malah loketnya tutupan.' Kalah kreatif sama saya pegawainya," kata Jokowi yang kembali mengundang gelak tawa pengunjung.

Di akhir kisah pengalamannya, Jokowi menceritakan, saat ia melakukan sidak di kelurahan dan kecamatan, banyak warga yang saat itu melihatnya sidak menyuruhnya untuk menghajar lurah dan camatnya. "Pas sidak itu, mungkin yang melihat saya ada seribu penduduk. Begitu saya hadir, mereka teriak, 'Pak Jokowi, dihajar saja camatnya, hajar saja lurahnya.' Ha-ha-ha... lha ini apa, kenapa saya harus menghajar mereka... ha-ha-ha," canda Jokowi yang mendapatkan tepuk tangan meriah dari pengunjung.

Editor :
Laksono Hari W

Minggu, 18 November 2012

Tulisan Perdana dan Bangga


Hipnotis Musik dari Kalifornia

Cake baru membuat penonton berjingkrak di saat konser hampir berakhir.  Konsisten di panggung


KRIIINGG.... Sejenak hening berdetak dalam detik. Bunyi telepon berdering disambut besutan gitar synthesizer menghipnotis. Lalu, sebuah lirik dibarengi gebukan drum menghentak sunyi: /No phone, no phone/I just want to be alone today/no phone, no phone. Penonton pun berjingkrak-jingkrak bak gelombang. Aksi spontan jemari gitaris Cake, Xan McCurdy memetik dawai gitar kian memukau penonton. Lengkingan gitarnya cepat nan eksotis.

Inilah saat-saat Cake mampu merebut hati sekitar 1500 penonton di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Kamis malam pekan silam. Penonton berjingkrak seirama lagu bertajuk No Phone yang disuguhkan John McCrea, vokalis kelompok asal Kalifornia ini. “Lagu ini bagi-orang-orang yang tak ingin terganggu dering telpon,” kata McCrea yang mengaku inspirasi lagu itu berawal dari kejenuhannya menerima telepon 15-20 kali sehari. 

Selesai lagu itu, lagu andalan I Will Survive yang sempat melejit di papan tangga lagu dunia pada 1996, membuat penonton kian menggila. Tak habis-habisnya histeria mereka meletup-letup. Dan, Never There menutup aksi panggung Cake. McCrea dan kawan-kawan melambaikan tangan, lalu surut ke balik panggung.

Penonton puas? Tidak. “We want more, we want more,” begitulah mereka tak ingin pertunjukan berakhir dan bergeming di arena. McCrea rupanya bersimpati kembali ke panggung. “Saya hargai kalian memilih pertunjukan ini, meski ada konser lain di dekat sini (Konser Kris Dayanti - red),” katanya. Lagu Daria lalu menjadi bonus antusias penonton dan sepasang stik drum Pablo Ebadi dilempar ke arah penonton yang berebut meraihnya dengan antusias.

Respon penonton seperti di tiga lagu terakhir sejatinya sudah jadi harapan McCrea sejak lagu ketiga, Short Skirt/Long Jaket, disuguhkan. Ia bahkan sudah berusaha menggaet hati penonton lebih awal lagi dengan cara melepaskan jaket abu-abu yang membungkus kemeja bergaris-garis vertikal yang ia pakai. “Terima kasih untuk suara-suara dari Jakarta,” kata McCrea setelah penonton bersedia mengikuti lirik yang dicontohkannya.

Sayangnya, suasana kembali redup hingga setengah jam lebih pertunjukan berlangsung memasuki lagu kesembilan, Sheep to Heaven. McCrea terlihat frustrasi, meski sudah konsisten bermain di panggung. Padahal, ia sudah berusaha atraktif di panggung dengan memainkan gitar akustik dan alat semacam garpu tala. Tiupan terompet dan keyboard juga selalu terdengar dominan memanjakan penonton di setiap lagu.

Apa boleh buat, pentas Cake ini tak termasuk kategori sold out concert (konser yang tiketnya habis terjual—red) yang bisa membuat senyum promotor Java Musikindo yang mendatangkan mereka ke sini. Gedung berkapasitas 4000 pengunjung itu tak penuh. Sisi tribun hanya diduduki puluhan penonton. Sementara di depan panggung hanya tiga perempat yang terisi. Setting panggung pentas Cake berukuran 17 x 6 meter juga sangat sederhana. Yang ada hanya permainan tiga lampu sorot dan sebuah bola kaca di atas panggung. Sementara sound system juga berkekuatan tak lebih dari 20 ribu watt. “Soundnya kayaknya kurang nendang ya,” kata Mone, 18 tahun, penonton asal Kupang kepada Tempo. Namun Mone tetap meras puas karena memang menyukai lagu-lagu Cake yang nyeleneh. Bukan easy listening, tapi bisa dinikmati.

Beda lagi dengan Raisa, 17 tahun, pelajar SMU Taman Tirta Jakarta Selatan dan Mareyke Rika, 28 tahun. Baik Raisa maupun Rika mengakui respon penonton sangat kurang. Mereka melihat seharusnya penonton bisa bergoyang pada beberapa lagu-lagu. “Saya kira kalau penonton memberi respon, bisa lebih hidup,” kata Raisa yang sudah mengenal lagu-lagu Cake ketika di bangku SMP. Lagu I Will Survive adalah lagu favoritnya.
 
Di kalangan Artis, rupanya banyak juga yang datang. Ada Andi /rif, Sigit (Base Jam), Puput Melati dan sejumlah artis lainnya. Andi /rif bahkan sudah jauh hari menjadwalkan waktunya untuk konser ini. “Saya senang  No Phone. Cepat dan enak di dengar,” katanya. 

Eduardus Karel Dewanto

So You Think You can.....

Malam itu, November 2012 

"So You Think You Can Dance" diputar di salah satu channel sebuah tv berbayar. Sebuah kontes anak muda menari (bukan tradisional). Satu per satu peserta single maupun duet unjuk kebolehan di atas panggung. lenggak-lenggok mereka disaput dengan belaian warna-warni lampu. 


Sungguh indah. Sekalipun bukan mahakarya, namun kompetisi ini memang sungguh membangun sebuah karya seni yang menakjubkan. Mereka berkompetisi dengan beragam genre tarian. Ada foxtrot, broadway, ballet, kontemporer, bollywood, hiphop, dan ragam lainnya. 

Bagaimana mereka mampu berkembang dari nol menjadi hebat di atas panggung? Masing-masing kontestan mendapatkan pemandu seorang pelatih papan atas dunia di Hollywood. Pelatih itu pun berganti-ganti. Mereka dari nol diberi kesempatan mengembangkan talentanya. Yang gagal, hukum alam yang akan merontokkannya.

Berlatih menjadi kewajiban mereka sebelum manggung. Menyerap ilmu dari para pelatih bintang itulah, modal mereka bila mau tampil apik dan menghayati. Tentu saja, karena koreografi tarian dari para pelatih itu, yang menjadi asupan para kontestan untuk mengembangkan talentanya berlenggak-lenggok di atas venue or stage. Ya. Para koreografer itu memang menjadi kunci keindahan di atas panggung. Merekalah perancang cerita, busana, ritme dan gerakan liak-liuk tubuh para kontestan.

Tengoklah apa kata para juri di ajang itu. Mereka selalu memberikan hormat kepada para koreografer itu, bila tarian mereka berhasil ditampilkan oleh para kontestan. ya, karena mereka ini kebanyakan para begawan tari dan seni.

Namun, ini yang terpenting. Semua ide dan gagasan para koreografer itu tak ada artinya sehebat apapun, tanpa ditopang semangat, kemauan, kreativitas, kecerdasan dan talenta dari para murid-murid kontestan. Semua gagasan itu menjadi sebuah karya di tanah lapang kering kerontang. Yang akan dilihat orang, hanyalah tanah kering retak-retak menjadi liat, begitu pula rasa yang ada adalah panas menyengat ubun-ubun kian membikin pusing. 

Deskripsi di atas menurut saya memiliki korelasi di dunia seni apapun. Salah satunya dunia seni jurnalisme broadcast. Para Koreografer itu ibarat para Executive Producer. Dia inilah penjaga gawang sebuah program. Ke mana arah dan tujuan sebuah produksi, adalah dia kuncinya. Tapi dia tidak akan memiliki arti apapun bila tidak ditopang personil, seperti produser, assprod, reporter, presenter, standupper, supporting teknik, yang handal. personil-personil ini terbangun dalam sebuah tim, dan bukanlah individu. Tim ini sepatutnya memiliki talenta, kemauan, kedisiplinan, kreativitas dan sebagainya. 

Karena itulah, saat melihat tayangan kontes tari di negeri Abang Sam atau United State, menjadi potret kecil kehidupan dunia broadcast. Para produser adalah kreator-kreator seni di layar kaca untuk menampilkan sebuah flow dan show rundown sebuah program menjadi apik, cantik, menarik, mendidik dan dilirik. Pilar penyangga itu ada di tangan mereka yang berada di garda terdepan, termasuk perangkat personil teknik yang menjadi support jalannya seni saat on air.

Dari tulisan ini, saya hanya sedikit ingin meluapkan sebuah pandangan menarik yang tampaknya sama dengan miniatur sebuah seni pertunjukan seperti tari. Dunia seni broadcast tak bisa dijalankan sendiri oleh individu. Tetapi tim yang kuat, yang mampu mengejawantahkan segala pemikiran seni "si dalang" "So 
You Think You Can Make a News Broadcast ??"

Senin, 29 Oktober 2012

Apa Kabar Jenderal ?

Mayjen Sriyanto Muntasram:
“Saya Percaya Kepada Hukum, Kok”

TUJUH anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang didakwa membunuh Ketua Dewan Presidium Papua Theys Hiyo Eluay disidangkan di Mahkamah Tinggi Militer Surabaya, pekan lalu. Ada yang istimewa dalam persidangan pertama itu: kehadiran sang Komandan Jenderal (Danjen), Mayor Jenderal Sriyanto Muntasram.
Adakah kehadirannya untuk memperlihatkan perlawanan atas proses hukum yang sedang dihadapi anak buahnya? Sriyanto membantah. Menurut dia, kehadirannya ini justru untuk menunjukkan dukungan pada penegakan hukum.
Bagi pria kelahiran Tuban, Jawa Timur, 28 Oktober 1950, peradilan yang sedang dihadapi tujuh anggotanya itu merupakan proses pembelajaran bagi mereka. Bahwa mereka tunduk kepada hukum. “Saya percaya kepada hukum, kok,” ujarnya.
Kursi Danjen Kopassus yang dulu dipandang empuk bagi karier seorang anggota militer, rupanya kini penuh duri. Sriyanto mengalaminya. Di saat tongkat komando ia pegang, sejumlah tanggung jawab sejumlah kasus yang diduga melibatkan anggota tentara ditudingkan ke korps pasukan elite yang dipimpinnya. Belum kasus pembunuhan Theys terungkap tuntas, muncul sejumlah kasus lain. Misalnya saja kasus penembakan guru sekolah internasional milik Freeport Indonesia di Timika, Papua, atau dugaan perlindungan bagi bos Geng Coker di Ambon, Maluku, juga kasus sejumlah bom di Jakarta.
Beban pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Sriyanto memang masih banyak. Tapi bekas Danrem 074/Warastratama, Surakarta, ini menyikapinya dengan tenang. Eduardus Karel Dewanto dari Tempo News Room yang khusus mewawancarainya sehubungan perkembangan kasus pembunuhan Theys merasakannya. Guyonan-guyonan dengan dialek Jawa yang kental mewarnai hampir sepanjang percakapan. Suasana pembicaraan pun menjadi segar dan akrab. Berikut petikan wawancara yang dilakukan sesudah persidangan pertama kasus Theys, akhir pekan lalu.

Ada maksud kehadiran Anda dalam sidang Theys di Mahmilti Surabaya?
Ini kan anggota saya disidang, tentu saya hadir dong. Sidang itu membacakan dakwaan terhadap tujuh personil Kopassus yang terdiri dari empat perwira, dua bintara, satu tamtama. Sebagai Danjen Kopassus saya ingin mengajari anggota saya untuk menghormati hukum. Soal kebenaran biar dibuktikan di persidangan. Mereka ini disidangkan tentu saja atas perintah saya sebagai Ankum.
Apakah Anda menilai kasus ini mencoreng citra Kopassus?
O … iya, tapi ini merupakan proses pembelajaran untuk tunduk kepada hukum. Dalam butir kedua Sapta Marga TNI itu kan (bunyinya) taat dan tunduk kepada hukum. Jadi, nanti lah kebenaran akan terungkap di persidangan.
Apa dakwaan Oditur?
Intinya, yang saya tahu, mereka didakwa sampai kematian Theys.
Apa Anda percaya keterlibatan mereka?
Ya ... kalau dari pengakuan mereka dalam penyidikan… em..(diam sejenak) nanti dibuktikan dalam persidangan sajalah. Tapi satu yang saya pegang bahwa, semua anggota saya itu senantiasa memegang prinsip demi keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia, red.). Iya to? Ha..ha..ha.. Tapi nanti saja dalam persidangan saja ya .. Kalau saya buka di sini nanti dikira mempengaruhi persidangan. Nanti dikira menggurui sidang. Itu nggak bagus ...ha..ha..ha. Biarlah persidangan berjalan alamiah dan terbuka. Kenapa ini sampai terjadi, biar terungkap dalam persidangan.
Kopassus kok memakai pengacara sipil? Dari mana dana untuk membayar mereka?
Em … Sebenarnya mereka itu sukarela ya. Kami tidak pernah negoisasi soal harga. Kami cuma mengontak mereka ada persoalan seperti ini, mereka mau membantu. Kebetulan beliau ini merupakan salah satu fans TNI, dan menginginkan adanya penegakan hukum. Jadi sampai sekarang ini kami tidak pernah nego soal honor, saya hanya minta bantuan. Kalau ada, ini … Kan mereka tidak harus mesti dibayar to ... ha..ha..ha..
Terhadap kasusnya sendiri, apa reaksi Panglima TNI?
Panglima TNI telah memerintahkan (kasus ini) segera diproses secara hukum.
Tujuh tersangka itu masih aktif?
Masih, dan mereka itu anggota-anggota saya paling potensial sebetulnya. Hanya, selama ini mereka dalam tahanan. Baik di POM maupun dalam satuan.
Seandainya mereka divonis bersalah, adakah konsekuensi dari Korps?
Kami lihat vonisnya. Kalau ternyata mereka betul-betul salah, kami harus menghormati vonis. Nanti akan kami lihat vonisnya seperti apa. Kalau tidak puas kan bisa naik banding. Tapi kalau ternyata bersalah, ya harus satria, lapang dada kami terima. Tapi sepanjang masih ada kemungkinan yang bersangkutan tidak bersalah, saya berkewajiban untuk mencari pembelanya untuk banding.
Jika tetap dinyatakan salah, apa konsekuensi keanggotaan mereka?
Kalau mereka memang bersalah ya dipecat. Apa boleh buat, selamat jalan. Saya kira ini peraturan yang berlaku umum di TNI. Tidak hanya Kopassus. Kalau mereka dipecat, ya selesai dan kembali sebagai masyarakat biasa. Mereka bisa saja mengabdikan diri di bidang lain. Tapi kalau ternyata hanya divonis sekian tahun dan tidak dipecat, mereka akan akan diterima kembali (jika selesai masa hukumannya).
Bukankah mereka potensial dan memiliki kualifikasi khusus? Tidak adakah dispensasi atau kebijakan khusus?
Kalau memang vonis itu ternyata bersalah, ya kami harus tetap lapang dada. Pencopotan itu sendiri kan sama saja sebagai pembelajaran yang baik. Tidak ada yang sempurna kan di dunia ini.. ha..ha..ha. Bagi saya, kalau memang itu vonisnya, ya sudah, itulah barangkali yang terbaik kami lakukan sebagai pembinaan kesatuan dan anggota yang lainnya untuk tunduk pada aturan yang berlaku. Namun, manakala ternyata tidak bersalah, kami harus perjuangkan karirnya lagi.
Kabarnya Kopassus akan membuat buku putih untuk kasus Theys ini?
Buku putih .. ha..ha..ha.. buku putih atau buku item itu apa? Aku mau cari buku tabungan saja .. ha..ha..ha...
Jadi tidak betul soal buku putih itu?
Saya percaya sama hukum kok. (Buku putih seperti) itu kan dibuat karena mereka nggak percaya hukum, terus membela diri, ya. Saya percaya hukum kok.
Mungkin bukan dari segi hukumnya. Kasus ini dinilai masih mencerminkan sikap Kopassus pada masa Orde Baru, dipakai untuk kepentingan kelompok tertentu, termasuk pemerintah.
Ha..ha..ha.. Saya kira itu tidak benar, mungkin perlu saya luruskan. Semboyan dan dasar-dasar penugasan (untuk Kopassus) semua tetap dan tidak ada perbedaan tradisi dan sebagainya. Hanya saja, menurut saya, saat (Orde Baru) itu tidak hanya Kopassus kan (yang sakit), bangsa kita yang sakit. Jadi bukan hanya Kopassus. Beberapa pihak sepertinya hanya main kambing hitam saja kan …ha..ha..ha... Barangkali juga, ada seni salah satu pejabat. Kepemimpinan suatu masa berbeda-beda, tapi visi dan misi kami tetap. Sebagai pasukan khusus, karena dilatih dengan khusus, perlengkapan khusus dengan sasaran yang khusus juga, Kopassus tetap milik bangsa.
Tapi publik telah mencap miring Kopassus.
Saya kurang sependapat dengan itu. Mungkin citra (di masyarakat) tidak menggambarkan hal sebenarnya. Bagi saya, visi dan misi Kopassus tetap. Maksudnya, semua pasukan di bawah binaan Angkatan Darat dan di bawah operasional Panglima TNI, itu tetap. Mungkin ada yang perlu diperbaiki, mungkin ada yang perlu ditingkatkan, itu wajar. Kalau dulu Kopassus dianggap sebagai centeng atau macem-macem itu .. he..he..he.. itu hak pandangan orang. Tapi sekarang sebenarnya sudah berubah. Bukan hanya Kopassus, tetapi paradigma TNI pun sudah berubah.
Bagaimana dengan banyak pelanggaran dilakukan anggota Kopassus?
Kalau dikatakan Kopasus, saya kok tidak sependapat ya, sebab di Kopassus itu jumlah orangnya sedikit. (Saya kira) itu dilakukan mereka yang mantan-mantan, dan sudah keluar dinas, tapi masih mengaku-ngaku Kopassus. Ada orang-orang luar sama sekali yang mengaku Kopassus, ini yang merepotkan sekali. Kan gampang mengatakan dari Kopassus. Tapi itu juga salah satu ciri, mereka itu masih agak segan kepada Kopassus.
Tapi beberapa kasus mencuat dari Kopassus?
Bisa Anda sebut contohnya.
Kasus Letda Agus Isrok, anaknya Jenderal Subagyo HS.
O... iya, pernah itu dulu ya. Itu oknum ya. Dia sekarang menunggu vonis dan kasasi. Itu memang benar. Tetapi, dalam kacamata saya, dia dimanfaatkan kelompok luar. Barangkali karena dikenal (sebagai) anaknya Pak Bagyo, (lalu)dimanfaatkan orang-orang itu.
Soal lain, betulkah Kopassus masih tersebar di berbagai daerah konflik?
Oke… jadi Kopassus itu memiliki tiga kemampuan. Pertama, istilahnya, kemampuan Parako atau Prajurit Para Komando yang lebih dominan tempurnya. Kemudian ada pasukan khusus Sandi Yudha yang lebih bergerak di bidang tertutup, kemudian ada pasukan khusus penanggulangan teror. Keterlibatan mereka sekarang ada di Aceh, Ambon, Irian dan Poso serta beberapa di luar negeri. Ada juga kedutaan-kedutaan tertentu di luar negeri yang meminta pengamanan tertentu. Jadi ada dan memang diberikan tugas ke sana bersama dari kesatuan lain.
Berapa besarnya?
Sekarang ini yang di luar sana hampir setengah dari kekuatan yang ada. Dan itu wajar-wajar saja karena menambah pengalaman bagi kami.
Kira-kira spesifik jumlahnya?
Itu sesuai permintaan masing-masing. Misalnya Kodam Aceh meminta kepada Panglima TNI. Saya sendiri tidak punya kewenangan menggerakkan secara operasional pasukan di daerah operasi. Itu sepenuhnya di tangan panglima setempat. Pangdam di Aceh, Pangdam Trikora, Pangdam Wirabuana atau pangdam lainnya.
Bagaimana pengawasan Kopassus di daerah konflik agar tidak melanggar hukum?
Saya akan tanya pangdam-nya, apakah merasa terbantu atau tidak. Jadi di sisi lain yang menjadi pembinanya itu saya, kemudian juga saya kirimkan staf ke sana untuk mengetahui kekurangannya. Apa yang bisa ditingkatkan lagi. Kadang-kadang saya gilir komandannya ke sana untuk mengecek. Masukan itu yang kami olah di sini (Markas Komando Kopassus Cijantung, red.) agar bisa lebih baik. Dari pangdam kami cek rapornya.
Terakhir, bagaimana pendapat Anda dengan munculnya satuan khusus lainnya?
Bukan, itu salah orang menyebut saja. Bagi saya enggak lah, kami bukan pasukan yang hebat, tapi kami pasukan terlatih saja. Jadi itu perlu saya garis bawahi agar kami tidak sombong dan arogan. Pada dasarnya, seseorang kalau dia mempunyai persyaratan khusus dan mampu melalui persyaratan, mereka berhak saja (bergabung ke Kopassus). Memang kami dipersiapkan di situ. Jadi ada spesialisasinya. Barangkali Kostrad ada diberi keahlian khusus, bagus sekali. Jadi dalam kegiatan yang tergabung itu pas.
*****