Senin, 29 Oktober 2012

Papua Riwayatmu Dulu



Budaya dan Modernisasi Pengaruhi Perilaku Seks

Sebuah penelitian yang dikomandoi Lesslie Butt Ph.d, seorang peneliti Aksi Stop AIDS Family Health International (ASA/FHI) bekerja sama dengan United State Agency for International Development (USAID) dan Lembaga Penelitian Universitas Cendrawasih menggali hubungan antara rata-rata infeksi HIV/AIDS dan kebudayaan dan perubahan sosial di Papua. Alasannya sejumlah penelitian menyebutkan bahwa 97 persen faktor penyebaran HIV/AIDS di Papua melalui hubungan seksual. Propinsi ini memiliki prevalensi kasus HIV/AIDS paling tinggi di Indonesia.

Data Dinas Kesehatan Propinsi Papua menyebutkan kasus HIV/AIDS di wilayahnya mencapai 634 kasus per 31 Oktober 2001. Dalam satu tahun ini, kasus tersebut telah meningkat sepertiga dibanding tahun lalu. Sebagian besar penyebarannya diketahui akibat hubungan heteroseksual maupun homoseksual. Sementara sedikit lainnya terjadi pada proses kehamilan bayi dan transfusi darah.

Menurut Lesslie Butt yang juga pengajar di Universitas Victoria Australia, perspektif budaya dan modernisasi memiliki efek besar mempengaruhi kegiatan seksualitas sehari-hari. Kepercayaan kematian, kecantikan, nafsu, acara perkawinan maupun berpacaran. Namun perubahan sosial sangat besar terpengaruh sistem keuangan global dan pemerintahan. Begitu pula masih kuatnya sistem lokal seperti sanksi dan pembayaran mas kawin.

Dampak modernisasi lingkungan seksual Papua di antaranya komersialisasi hubungan seksual, konsep dan perilaku baru, perubahan struktur perkawinan dan tanggungjawab keluarga. Efek modernisasi menyebabkan seks komersial lebih tersebar luas melalui mobilitas ke kota. Ini didorong hal-hal baru seperti film porno dan minuman keras.

Penelitian 14 hari ini dilakukan dengan mengumpulkan data kualitatif dan kuantitatif melalui survei seksualitas umum di Kabupaten Merauke, Jayawijaya, Jayapura dan Sorong. Metode lainnya travel diaries untuk mendapatkan informasi kebenaran tinggi tentang perilaku seksual sehari-hari. Termasuk melihat sejauh mana hubungan antara pelaku seksual dan faktor-faktor lain seperti pemakaian kondom, pola minum dan mobilitas.

Prosentase responden yang melakukan hubungan seks dengan lebih satu pasangan dalam tahun terakhir sejumlah 29 persen dan 27 persen pada satu pasangan. Rata-rata penyakit menular seksual 16 persen dengan perbedaan selisih gender minimal. Pengaruh budaya terhadap perilaku seksual itu termasuk sistem sanksi atau denda bila terjadi hubungan di luar pernikahan, perubahan pembayaran mas kawin dan cara perkawinan seperti poligami.

Ada empat macam perilaku seksual berisiko tinggi dalam masyarakat. Di antaranya prosentase responden yang berhubungan seks pertama kali di bawah umur 16 tahun, seks laki-laki di atas umur 30 tahun dengan wanita di bawah usia 20 tahun remaja 25 tahun yang pernah berhubungan seks sebelum usia 20 tahun dan yang pernah melakukan seks antre. Semua itu berkaitan dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS dan penggunaan kondom. Responden yang pernah mendengar HIV/AIDS dan yang bisa menyebut kondom masih kecil.

Seks komersial adalah sistem hubungan seks resmi yang terbagi beberapa tingkat. Drs. Jake Morin M.Kes salah satu peneliti ASA/FHI mengatakan, waria merupakan risiko tinggi seksual di Abepura dan Sorong berjumlah 225 orang. Mereka banyak tinggal sendiri, menyewa kamar terlepas dari keluarga. Pekerjaan waria bervariasi. Ada di bar, pekerja seks jalanan, pegawai negeri, pegawai swasta dan pegawai salon. "Pekerjaan di salon merupakan proporsi paling banyak. Dan frekuensi penggunaan dan pengetahuan kondom sangat rendah." ujar Morin,

Sedangkan kelompok risiko tinggi pekerja seks komersial (PSK) di Papua kurang lebih 2000 orang di kota. Tempat tinggalnya di kamar sewaan. kelab malam, lokalisasi dan rumah pribadi. Para pekerja seks di Merauke, Wamena dan Sorong berasal dari berbagai daerah. Mayoritas pekeda seks 'terbuka' di jalanan adalah wanita asli Papua. Pekerja seks di bar, lokalisasi dan terselubung adalah pendatang. Sedangkan pekerja seks jalanan tertutup (hubungan seks di kamar hotel atau di rumah) campuran pendatang dan Papua.

Penelitian ini memberi tiga rekomendasi pencegahan melalui perubahan perilaku, pencegahan lewat promosi solidaritas masyarakat dan pencegahan kelompok risiko tinggi. Secara umum harus mencegah dengan menaikkan kesadaran pamakaian kondom di desa, karena kesempatan hubungan seksualnya sama tinggi dengan kota. Selain itu, program mengedarkan masyarakat soal masalah remaja sangat diperlukan. Untuk waria harus dibangun program menaikkan kesadaran bersama dengan masyarakat secara umum tentang bahaya seks anal tanpa kondom. eduardus karel dewanto.

Patani Lima Tahun Silam

Atas Nama Malayu Patani
20 Januari 2007
 
Konflik bersenjata di Thailand Selatan terus berkecamuk. Pemerintah enggan berunding dengan pemberontak.
Dua orang yang berboncengan sepeda motor muncul dari balik kabut pagi di Yala, Thailand Selatan, Senin pekan lalu. Si pembonceng tiba-tiba mengangkat senapan yang disandangnya, membidik seorang lelaki yang sedang membuka kedai di simpang jalan. Lelaki itu, Abdulmanan Jaesaw, 34 tahun, roboh seketika. Kepalanya bocor, darah mengucur deras. Tamat. 
Abdulmanan dikenal propemerintah. Guru mengaji itu menyokong kampanye perdamaian di Thailand Selatan, dekat perbatasan Malaysia. Gerai miliknya turut mencetak poster dan spanduk berisi pesan damai. Karena itu, polisi segera menuding kelompok militan muslim sebagai pelaku pembunuhan. ”Mereka jaringan militan di selatan,” kata Komandan Polisi Kota Yala, Kolonel Parnpitak Thepchudeang. 
Pekan sebelumnya, dua warga Buddha Yala juga tewas dalam serangan serupa. Sukit Yingsong, 28 tahun, relawan perdamaian, dan ayahnya yang lumpuh, Kan Yingsong, 60 tahun, diguyur peluru kelompok bertopeng. Pada hari yang sama, Maae Wantae, 37 tahun, Wakil Kepala Desa Rangae, distrik Provinsi Narathiwat, tewas diserang kelompok bersenjata.
Selama 20 bulan konflik di Thailand Selatan, sudah ada 870 korban jiwa. Ketegangan bermula ketika Januari tahun lalu sekelompok massa bersenjata menyerbu tangsi di Narathiwat. Empat serdadu tewas, 300 pucuk senjata dan amunisi lenyap. Pemerintah melakukan serangan balasan yang menewaskan 108 orang pada 28 April. Setelah itu, 87 aktivis Islam Patani tewas kehabisan napas karena ditumpuk di truk setelah berunjuk rasa di Kota Tak Bai, Oktober lalu. 
Sejak dua peristiwa itu, Thailand Selatan, yang banyak dihuni kelompok minoritas muslim, semakin panas. Gerilyawan menyerang aparat dan warga propemerintah. Juli lalu, pemerintah memberlakukan undang-undang darurat untuk meredam perlawanan. Di bawah undang-undang itu, aparat boleh menahan orang yang dicurigai selama tujuh hari, menyensor surat kabar, dan menyadap pembicaraan telepon. 
Masalahnya tetap tak selesai. Serangan kini justru meruyak ke sekolah, pos polisi, dan barak-barak militer di tiga provinsi di selatan: Yala, Patani, dan Narathiwat. Selebaran gelap tulisan tangan tanpa identitas beredar di mana-mana. Warga yang beraktivitas pada hari Jumat diancam bakal dipotong telinganya. Ekor itu nyaris lumpuh.
Pekan lalu, untuk pertama kalinya Organisasi Pembebasan Patani Bersatu, PULO, menyatakan diri sebagai kelompok yang bertanggung jawab atas semua aksi itu. Menurut juru bicara PULO, berbagai aksi itu adalah bagian dari perjuangan kemerdekaan suku Melayu di Thailand. ”Tujuan kami merebut kembali hak kami,” kata tokoh yang merahasiakan identitasnya itu. ”Patani milik kaum Melayu.” Ia mengaku tak punya hubungan dengan jaringan Al-Qaidah maupun Jamaah Islamiyah.  
Perdana Menteri Thaksin Shinawatra ketar-ketir juga oleh maraknya aksi pembunuhan dalam tiga pekan terakhir. Apalagi popularitasnya sedang terjun bebas ke titik nadir. Karena itu, ia memperketat undang-undang darurat: masa penahanan orang yang dicurigai diperpanjang hingga 30 hari, tanpa dakwaan. ”Senat akan voting dan saya harap bisa diterima,” katanya kepada Radio Nederland. 
Kampanye perdamaian tetap dikibarkan. Untuk meyakinkan warga, Thaksin turun ke pasar-pasar, pertokoan, perkantoran, dan permukiman warga muslim maupun Buddha. Burung-burung kertas simbol damai disebarluaskan. Di warung-warung teh, layanan TV kabel ditawarkan untuk hiburan. 
Di tengah gencarnya kampanye perdamaian, petinggi PULO mengklaim telah bertemu Thaksin pada 24-27 Agustus di Lausanne, Swiss, untuk membicarakan upaya damai. Tapi klaim ini segera dibantah pemerintah. ”Klaim itu hanya untuk membuat kaum militan seolah penting,” kata Deputi Perdana Menteri Chidchai Vanasathidya. Di depan ribuan warga Buddha dan muslim Patani, Menteri Pertahanan Thamarak Isarangura malah berjanji menambah pasukan. Nah! 
Eduardus Karel Dewanto (Bangkok Post, Reuters, Aljazeera, Khaleed Times, AFP)
Sumber: Majalah Tempo

Apa Kabarmu Papua ?

HIV/AIDS Mencengkeram Papua


HIV/AIDS Mencengkeram Papua
Informasi dikumpulkan oleh relawan YAI
Dokumentasi Koran Tempo
Senin, 26 November 2001

Bupati Merauke John Glupe Gepze menabuh genderang perang terhadap HIV/AIDS. "Kita nyatakan HIV/AIDS sebagai musuh kita. Ini keadaan darurat." Penderita HIV/AIDS di Papua per 31 Oktober sebanyak 634 jiwa.

Sayup-sayup dentuman musik keras berirama disko dangdut terdengar halus bila menyusuri jalan tanah setapak di sebuah sudut Kabupaten Merauke. Semakin mendekat, dentuman musik itu semakin jelas meraung-raung dari dalam sebuah kompleks rumah-rumah sederhana berjajar rapi di atas rawa dengan bangunan sederhana terbuat dari papan kayu seadanya. Orang mengenalnya sebagai kompleks lokalisasi pekerja seks 'Hotel Terapung' Yeobar (baca: rawa),

Tempat itu berjarak tiga kilometer dari pusat kota. Hanya ada satu-satunya jalur menujunya, becek tak berpenerangan. Kiri-kanannya terhampar tanah kosong berupa rawa dan pemakaman adat. Melintasi jalan itu, tercium bau menyengat khas asin daerah pesisir yang memang berjarak 500 meter. Tak sembarangan orang berani melaluinya. "Kalau orang sudah masuk ke sini, pasti sudah niat untuk melampiaskan nafsunya," ujar Fransisca Nuhuyanan, seorang pendamping ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) Yayasan Santo Antonius.

Di tempat lain, satu sudut ruang temaram kelab malam di Merauke, seorang wanita duduk santai di sofa berempuk warna cokelat. Bibirnya menor, dandanannya seronok. Rose, 28 tahun, begitu ia mengaku, setiap hari harus selalu berpenampilan seperti itu. Ibarat barang dagangan yang dipajang di atas etalase. Tuntutan ini tak lain karena pekerjaannya sebagai pekerja seks di sebuah kelab malam di sudut kota di Papua. "Saya terpaksa seperti ini gara-gara suami. Dia pergi bawa perempuan lain," ucapnya.

Pekerjaan memuaskan kenikmatan sesaat banyak membuat orang lupa segalanya. Padahal entah disadari atau tak mempedulikannya, pekerjaan dan tempat seperti itu banyak menjadi sarang penyakit berbahaya. Penyakit yang bisa saja tumbuh dari para pelanggan mereka, seperti Human Immune defficiency Virus/Acquired Immune Defficiency Syndrome (HIV/AIDS) Yang belum ditemukan penawarnya hingga saat ini. Penyakit ini menggerogoti kekebalan tubuh manusia perlahan-lahan dan berakhir pada kematian. Padahal berbagai penelitian menyebutkan Papua tertinggi penularannya melalui hubungan seks.

Dwi Suparmi, 30 tahun, bukan nama sebenarnya, adalah salah satu korbannya. Kendati sudah mengidap HIV, la terpaksa terus menjalankan profesinya sebagai pekerja seks di kawasan 'Beirusak' alias Belakang Rumah Sakit. Hingga menjelang Ramadan la masih terus menerima pelanggan. Berangkat pagi dan pulang malam dini hari. "Ya saya sadar kalau saya sakit. Tapi saya butuh uang untuk bayar hutang," tutur Suparmi ketika menjawab pertanyaan Tim Aksi Stop AIDS (ASA) yang diprakarsai Family Health International (FHI) bekerja sama dengan United State Agency for International Development (USAID) pekan lalu.

Karena pekerjaannya inilah, wanita asal Klaten itu harus menanggung beban penyakit yang sangat ditakuti masyarakat. Ia mengetahui darahnya terjangkit HIV/AIDS positif ketika melakukan dua kali tes darah di rumah sakit pertengahan 1999. Sudah tiga tahun ini, ia mengidap HIV/AIDS dan selalu berusaha menyembunyikan penyakitnya dari pelanggan maupun masyarakat sekitarnya.

Namun sejak mengidap HIV/AIDS, Suparmi langsung mendapat pendampingan dari relawan Yayasan Santo Antonius (Yasanto) Merauke. Hidupnya di lokalisasi selalu diawasi dan dibimbing para relawan. Karena itulah, ia dapat menyadari bahaya penyakitnya bagi orang lain. Ada semacam ketukan nurani dari dirinya untuk berusaha menjaga agar orang lain tidak tertular penyakitnya. "Makanya biar tamu nggak tertular saya minta pakai kondom. Kalau dari mereka tidak mau pakai kondom ya saya tolak saja," ungkapnya. Makanya, dia selalu menyisihkan penghasilannya untuk membeli kondom. 'Paling cuma Rp 5 ribu saja kok, tapi orang lain nggak ketularan penyakit saya ini.

Kini Suparmi menjadi bagian dari relawan Yasanto. Ia juga berjanji akan tetap hidup di Merauke memberikan pengarahan kepada sesama pekerja seks untuk memasyarakatkan kondom. Karena kondom satu-satunya yang paling efektif mencegah penyakit akibat hubungan seks. Bahkan niat itu pernah mendorongya menolak saran untuk kembali ke kampung halaman. Selain itu, la juga trauma dengan cerita teman-temannya yang diasingkan keluarga dan tetangganya. "Nggak ada sih niat pulang ke Jawa. Nggak usahlah kasih tahu orang (keluarga), biar kita mati di sini saja," ungkapnya pasrah. Cukup tiap malam untuk mencapai harapannya itu , la selalu salat tahajud.

Melihat kondisi yang semakin memprihatinkan, Bupati Merauke John Glupe Gepze menabuh genderang perang terhadap HIV/AIDS, 'Kita nyatakan HIVIAIDS sebagai 'musuh' kita. lni keadaan darurat,' lontar Bupati berjanji kepada rakyatnya akan memerangi penyakit mematikan itu. Ini bukanlah tanggungjawab moral terhadap rakyat yang ringan.

Rencananya, pelaksanaannya akan dimulai per 1 Desember 2001 mendatang persis ketika dunia merayakan Hari AIDS. Seluruh aparat pemerintah sudah disiagakan untuk bergerak serentak bersama tokoh adat, tokoh agama dan organisasi non pemerintah. Para tokoh agama dan tokoh adat akan dititipi pesan 'sponsor' mengenai masalah HIV/AIDS dalam ceramah di tempat ibadah dan sukunya. Berbagai media massa baik cetak maupun elektronik akan dianjurkan untuk menyiarkan secara rutin tentang ancaman HIV/AIDS,

Gebrakan itu akan berlanjut dengan program kondomisasi bagi seluruh masyarakat secara besar-besaran dalam peringatan satu Abad Merauke, 12 Februari 2002 mendatang. Akan disebarkan poster dan pamflet tanda bahaya bahwa Merauke menjadi tempat tertinggi HIV/AIDS. Foto-foto para korban dipasang dengan menutup pada bagian matanya. "Ini agar orang tahu bahayanya penyakit ini. Akan saya katakan kepada mereka, ini sudah 300 orang mati di Merauke karena HIV/AIDS, apa mau ada yang menyusul?" ucapnya.

Awal November lalu, pemerintah daerah Papua memberangkatkan satu tim pemerhati HIV/AIDS ke Uganda untuk melakukan pembandingan penanganan HIV/AIDS. Negara itu dipilih karena Uganda merupakan salah satu negara yang sebagai anggota keluarga di masyarakatnya mengidap HIV/AIDS. Pemerintah di sana tengah serius menangani kasus ini.

Agar kampanye di Papua mengena pada masyarakat, komunikasi penyampaian informasi harus praktis dan mudah diterima masyarakat Cukup dalam bentuk percakapan kecil, "Eh, kitorang habis kubur jenasah. Kenapa? HIV/ADS. Oh iyokah? lyo, sapa tahu kitorang juga sudah kena kah."

Upaya Bupati cukup beralasan. Kasus di Papua tengah melonjak drastis dengan prevalensi tinggi per 100 ribu penduduknya dibanding Jakarta yang berpenduduk padat. Menurut catatan dari Dinas Kesehatan Propinsi Irian Jaya menyebutkan jumlah total penderita HIV/AIDS per 31 Oktober sebanyak 634 jiwa dengan perincian HIV 384 jiwa dan AIDS 250 jiwa. Dari total keseluruhan itu, 327 diantaranya menyebar di Kabupaten Merauke. Padahal Papua hanya memiliki penduduk sedikit, Jadi pantaslah bila Gepze keras meneriakkan penyelesaian kasus ini.

Menurut faktor risiko, kasus tertinggi melalui penularan hubungan heteroseksual sejumlah 590 jiwa. Deteksi melalui transfuse darah ditemukan 12 jiwa, kehamilan 7 jiwa, transfuse darah 3 dan 24 jiwa tidak diketahui. Sedangkan bila dilihat dari jenis kelamin yang terbanyak laki-laki mencapai 335 jiwa, perempuan 286 jiwa dan 13 tidak diketahui (waria). Jembatan penularan itu kebanyakan dalam rentang usia 15-49 tahun dengan status kewarganegaraan Indonesia 545 Iiwa dan 86 asing. Akibat penyakit ini, sudah ada sekitar 250 orang sudah masuk level AIDS dan 98 meninggal. eduardus karel dewanto

Senin, 01 Oktober 2012

METERAN PLN, AKAL SIAPA ?

Kamis, 26 September 2012 Sekitar pukul 12 siang, empat orang dari PLN datang ke rumah. "Permisi bu... mau periksa meteran". Si ibu di dalam rumah, tak lain istriku menyambut dengan baik," silakan pak.. masuk aja..." Petugas PLN pun kemudian mengecek meteran listrik. Satu orang mengeluarkan sebuah alat lalu mencoloknnya ke kabel meteran yang ada di luar. Visual dalam alat tersebut menunjukkan angka 50 lebih. "Ini artinya ada daya yang hilang 50 persen bu." Kata si petugas tersebut.. "ibu harus ke kantor untuk mengurus masalah ini." Istriku pun bingung lalu meneleponku. "Pak, ini meteran rumah katanya bermasalah, ada petugas datang." Aku pun kemudian bertanya masalah apa ?" Dan dijelaskanlah tentang temuan tadi. Karena aku sedang sibuk, lalu meminta istri menyampaikan kepada petugas untuk datang lagi ke rumah esok hari pukul 10 sebelum aku berangkat. Dan petugas pun pergi.

Di tengah tugas, aku terus kepikiran dengan temuan petugas tersebut. Rasa keingintahuanku pun membuhul kencang. Aku kemudian menghubungi istri menanyakan nomor telepon petugas tadi dan ternyata ditinggalkan. "Berarti petugas ini iktikadnya baik dan benar dari PLN," batinku. Lalu kuhubungi si petugas untuk kembali lagi ke rumah. Si petugas pun mengangguki permintaanku lalu balik kanan ke rumah. Aku pun
segera meluncur pulang. Setiba di rumah, si petugas bernama Eko itu menjelaskan dan menunjukkan masalah dalam meteranku. Memang meteran di rumah itu ada kabel jumper yang aku baru tahu dan melihat istilah jumper tersebut. Aku pun bertanya kepada petugas, apa yang harus aku pertanggungjawabkan, karena ini bukan saalahku. Apalagi aku baru masuk rumah itu dalam hitungan bulan. Si petugas rupanya memintaku untuk datang ke kantor dan menandatangani berkas acara. Aku sendiri saat itu tergesa-gesa dan ingin segera rampung.

Aku kemudian meluncur ke kantor PLN Marunda, perwakilan di wilayah rumahku. Di sana aku langsung disamput Pak Agus, pimpinan APL P2TL, dan menemuiku langsung. Agus menjelaskannya kepadaku tentang adanya konsekuensi denda atas temuan petugas, meski bukan aku yang berbuat. Kami pun berdebat panjang, karena tak mau membayar sebuah kesalahan yang bukan perbuatanku."kalau saya bayar, artinya saya mengakui berbuat salah dong,' kataku pada Agus.

Ujung-punya ujung, ajian serat jiwa kuluapkan di situ dengan menelepon sejumlah kenalan di PLN pusat, yang rupanya memberikan jawaban sama. Bahwa aturan memang memberlakukan begitu. Mereka pun mengingatkanku bila membeli rumah harus hati-hati dan dicek semua tidak bermasalah, termasuk listrik. Lah setahuku, selama ini yang aku cek biaya listrik nunggak atau tidak dari pemilik lama. Aku pun kembali berbincang dengan Agus yang juga mendengarkan pembicaraanku.

"Gini aja pak, saya beri waktu sampai senin kalau mau cari jalan dulu. Yang jelas sistem pasti akan meminta bapak membayar denda. Kalau tidak, bapak berupaya saja menemui penjual untuk mempertanggungjawabkannya."

Saat itu juga aku menelepon agen penjual rumahku, tapi dia terkesan susah membantu. Dan akhirnya aku ditawari Agus, untuk mengeprint data denda yang harus kubayarkan untuk dipakai nego dengan penjual rumah. Aku pun mengangguk dan terperanjat, ketika tahu angka yang disodorkan mencapai 10 juta lebih. Gila...... Aku pun kemudian pergi dari kantor tersebut dengan lemas. Percuma berdebat dengan Agus, karena dia memang hanya menjalankan perintah. Aku kemudian mencoba mencari jalan keluar, riset di internet dan menghubungi teman-teman yang pernah punya masalah sama. Hasilnya, memang semua nihil dan dimenangkan PLN. Bahkan, aku sempat dibantu seorang bapak, mantan pimpinan PLN untuk menanyakan masalah tersebut. Rupanya pun tak tembus juga. Alhasil, aku harus beriklhas dulu sampai senin, agar pekerjaan di kantor tak terbengkalai.

Senin, 1 Oktober tiba.. aku bergegas menuju kantor PLN. Tergerak olehku untuk menghubungi langsung pimpinan PLN Marunda, tempatku kena sanksi. Hasilnya rupanya sama, Pak Oki Hermanto, begitu Manajer PLN ini disapa, menerimaku dengan baik-baik melalui telepon. Dia juga tidak bisa apa-apa, hanya bisa memberikan keleluasaan untuk mengangsur sampai satu tahun atau 12 bulan denda tersebut. Pak Oki juga menyarankan untuk mendesak sang agen property rumah mengurusnya, karena ada klausul yang menyatakan dalam akta jual beli bahwa: rumah dipindahtangankan dalam kondisi tidak bermasalah.

Aku menyepakatinya, lalu menuju ke kantor Agen. Si Agen memang belingsatan bingung. Dia menjanjikan kepadaku untuk terus mencari Edy Kamto, pemilik lama. Di depanku, dia bahkan berusaha menelepon. Nomornya memang sama dengan yang saya miliki. Tapi, nomor itu tak nyambung. Dia kemudian menjanjikan untuk terus mencari jejak Edy Kamto...

Duuuh..... ribet amat ya....

Kini, tinggal keputusanku, antara menunggu penyelesaian atau tetap harus di bayar. Masalahnya, tenggat waktu untuk pembayaran hanya dikasih sampai tiga hari ke depan. Sementara itu, aku juga mencoba menghubungi seorang lawyer yang getol mengurusi kebijakan publik. Tapi setelah itu, aku kembali berpikir... ahh, sudalah.. capek... ikhlaskan saja, semoga ini menjadi uang pembuang sial... Esoknya, aku meluncur ke PLN Marunda untuk menyelesaikan semua administrasi, sehingga aku bisa kembali bekerja dengan tenang. Meski, aku harus menanggung beban yang bukan menjadi kesalahanku....

Kamis, 27 September 2012

Homeschooling vs Sekolah Reguler



Apa persamaan dan perbedaan homeschooling dibandingkan sekolah pada umumnya?

Persamaan:

    * Sekolah dan homeschooling merupakan model pendidikan anak.
    * Sekolah dan homeschooling bertujuan untuk mencari kebaikan bagi anak-anak.
    * Sama-sama dapat mengantarkan anak-anak pada tujuan pendidikan.

Perbedaan:

    * Sistem di sekolah terstandardisasi, sistem di homeschooling customized sesuai      kebutuhan anak dan kondisi keluarga
    * Pengelolaan di sekolah terpusat (kurikulumnya diatur), pengelolaan homeschooling tergantung orang tua (orang tua memilih sendiri kurikulum dan materi ajar untuk anak)
    * Jadwal belajar di sekolah telah tertentu, jadwal belajar homeschooling fleksibel tergantung kesepakatan orang tua-anak.
    * Tanggung jawab pendidikan sekolah didelegasikan orang tua kepada guru dan sekolah, pada homeschooling tanggung jawab sepenuhnya ada di orang tua.
    * Di sekolah, peran orang tua relatif minimal karena pendidikan dijalankan oleh sistem dan guru; pada homeschooling peran orang tua sangat vital dan menentukan keberhasilan pendidikan anak.
    * Pada model belajar di sekolah, sistem sudah mapan dan orang tua tinggal memilih/mengikuti; homeschooling membutuhkan komitmen dan kreativitas orang tua untuk mendesain dan melaksanakan homeschooling sesuai kebutuhan anak.



Masa depan anak homeschooling

Pintu masuk untuk memasuki sebuah profesi adalah keahlian (expertise) dalam bidang tertentu. Dalam sistem yang umum, salah satu tanda keahlian ditandai dengan ijazah/sertifikat dari sebuah jenjang pendidikan tertentu. Selain ijazah, ukuran sebuah keahlian yang lain adalah hasil karya (output) yang dihasilkan.

Jika ijazah dari Perguruan Tinggi yang menjadi kebutuhan, praktisi homeschooling dapat mengikuti ujian kesetaraan (Paket A, B, C) dan melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi seperti pendikan reguler pada umumnya.

Jika sertifikat yang menjadi pintu profesi, praktisi homeschooling dapat mengikuti kursus dan program sertifikasi yang banyak diselenggarakan oleh asosiasi profesi atau perusahaan swasta tertentu. Banyak profesi di bidang komputer, bahasa, seni, dan keahlian-keahlian lain yang dapat berawal dari standar sertifikasi profesi tertentu.

Selain dua pintu profesi di atas, semakin banyak profesi-profesi yang berkembang berdasarkan output. Perusahaan swasta pun semakin menghargai "portofolio karya/kemampuan" daripada sekedar ijazah. Sebagian besar profesi-profesi berdasarkan karya/kemampuan adalah profesi di dunia modern. Profesi-profesi berorientasi output itu semakin luas dan memiliki masa depan yang cerah misalnya: bisnis, komputer, marketing, fotografi, entertainment, tulis-menulis, desain, dan sebagainya.

Pada akhirnya, yang dinilai adalah output. Homeschooling memiliki potensi besar untuk mengembangkan kemampuan dan keahlian anak-anak karena sifat pendidikan homeschooling yang customized dan didesain khusus memenuhi kebutuhan anak.


Apakah homeschooling mahal atau murah

Setting homeschooling sangat tergantung pada keluarga penyelenggara homeschooling. Berbeda dengan sekolah, di mana orang tua harus mengeluarkan sebuah biaya tetap yang telah ditetapkan (biaya gedung, seragam, buku, iuran bulanan, dsb), para praktisi homeschooling memiliki fleksibilitas untuk menentukan jumlah biaya yang harus dikeluarkan untuk anak-anak.

Isu homeschooling bukan pada biaya yang harus dikeluarkan untuk pendidikan anak, tetapi pada komitmen dan kreativitas untuk menjalankan homeschooling. Dengan biaya minimum, Anda dapat menjalankan homeschooling dengan kreativitas Anda.

Yang pasti, homeschooling tidak gratis karena Anda tetap membutuhkan materi-materi untuk pendidikan anak-anak Anda dan memperkaya pengetahuan Anda. Homeschooling dapat menjadi murah kalau Anda dapat memanfaatkan sumber daya yang sudah Anda miliki sendiri, misalkan barang-barang yang di rumah, keluarga, teman, tetangga, dan fasilitas-fasilitas umum yang ada di sekitar Anda. Anda tidak harus membeli, tetapi dapat meminjam, membeli barang bekas, melakukan daur-ulang (recycle), dan sebagainya.

Yang penting bukanlah mahal-murah, tetapi sejauh mana Anda dapat menyediakan sarana untuk bahan pendidikan anak-anak dan mencapai tujuan pendidikan anak-anak Anda.



Kelebihan dan Kekurangan HS

Kelebihan homeschooling:

    * Customized, sesuai kebutuhan anak dan kondisi keluarga.
    * Lebih memberikan peluang untuk kemandirian dan kreativitas individual yang tidak didapatkan dalam model sekolah umum.
    * Memaksimalkan potensi anak sejak usia dini, tanpa harus mengikuti standar waktu yang ditetapkan di sekolah.
    * Lebih siap untuk terjun di dunia nyata (real world) karena proses pembelajarannya berdasarkan kegiatan sehari-hari yang ada di sekitarnya.
    * Kesesuaian pertumbuhan nilai-nilai anak dengan keluarga. Relatif terlindung dari paparan nilai dan pergaulan yang menyimpang (tawuran, drug, konsumerisme, pornografi, mencontek, dsb).
    * Kemampuan bergaul dengan orang tua dan yang berbeda umur (vertical socialization).
    * Biaya pendidikan dapat menyesuaikan dengan keadaan orang tua



Kekurangan homeschooling:

    * Butuh komitmen dan keterlibatan tinggi dari orang tua
    * Sosialisasi seumur (horizontal socialization) relatif rendah dibandingkan anak sekolah karena anak homeschooling lebih terekspos dengan sosialiasi lintas umur (vertical socialization).
    * Ada resiko kurangnya kemampuan bekerja dalam tim (team work), organisasi, dan kepemimpinan.
    * Perlindungan orang tua dapat memberikan efek samping ketidakmampuan menyelesaikan situasi sosial dan masalah yang kompleks yang tidak terprediksi.


Mana yang lebih baik antara homeschooling dan sekolah reguler?

Semua sistem pendidikan memiliki kelebihan dan kekurangan. Satu sistem sesuai untuk kondisi tertentu dan sistem yang lain lebih sesuai untuk kondisi yang berbeda. Daripada mencari sistem yang super, lebih baik mencari sistem yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak dan kondisi kita.

Sistem pendidikan anak melalui sekolah memang umum dan sudah dipraktekkan selama bertahun-tahun lamanya. Saat ini, pendidikan melalui sekolah menjadi pilihan hampir seluruh masyarakat.

Tetapi sekolah bukanlah satu-satunya cara bagi anak untuk memperoleh pendidikannya. Sekolah hanyalah salah satu cara bagi anak untuk belajar dan memperoleh pendidikannya. Sebagai sebuah institusi/sistem belajar, sekolah tidaklah sempurna. Itulah sebabnya, selalu ada peluang pembaruan untuk memperbaiki sistem pendidikan; baik di level filosofi, insitusi, approach, dan sebagainya.

Sebagai sosok yang bertanggung jawab untuk mengantarkan anak-anak pada masa depannya, orang tua memiliki tanggung jawab sekaligus pilihan untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Homeschooling menjadi alternatif pendidikan yang rasional bagi orang tua; memiliki kelebihan dan kekurangan inheren di dalam sistemnya.

Tugas kita sebagai orang tua adalah memastikan bahwa kita telah memberikan yang maksimal untuk anak-anak kita, dengan segala batasan (constraint) yang kita miliki.



Sumber FAQ

Homeschooling" Untung dan Rugi"

Pendidikan homeschooling seperti school home kak seto sangat penting bagi kita yang ingin menjadi manusia penuh dengan ilmu. Pada dasarnya pendidikan home school adalah proses dimana kita memperoleh ilmu dengan cara apapun itu, dan pendidikan home schooling kak seto tak hanya melulu berhubungan dengan rutinitas sekolah. Pendidikan bisa juga didapat di luar lingkungan sekolah, seperti dirumah, dalam pergaulan dan berinteraksi sebagai mahluk sosial. Hanya saja pendidikan school home yang notabene didapat di bangku sekolah ini, kini sedikit berubah mengikuti kemajuan jaman dan teknologi. Memperoleh pendidikan homeschooling kak seto dan mengikuti kurikulum yang sudah ditentukan oleh pemerintah, tidak harus datang ke sekolah.Sistem yang kini sedang berkembang di Indonesia yaitu, home schooling (sekolah di rumah) atau istilah lainnya home education atau home-based learning atau home school. Homeschooling ini sebenarnya sama saja dengan menyerahkan tanggung jawab pendidikan school home pada keluarga atau orangtua yang bersangkutan.Homeschooling yang artinya sendiri adalah belajar di rumah, sudah pasti melakukan kegiatan pendidikan dalam lingkungan rumah. Ini bukan berarti orang tua saja yang mengajari atau mendidik anak-anaknya, mereka bisa memanggil guru privat yang dirasa cocok untuk mata pelajaran tertentu dan juga bisa melalui pengambilan kursus ataupun les, seperti home schooling kak seto.Keberadaan homeschooling kak seto sudah diatur dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 27 ayat 1, yang berisikan kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.Dengan adanya aturan tersebut, homeschooling kak seto bukan sebuah sistem pendidikan yang dibuat-buat (rekayasa), karena pada dasarnya keluarga memiliki hak dan kewajiban besar dalam membentuk seorang anak menjadi pribadi yang potensial.Layaknya sebuah sistem pendidikan home schooling kak seto yang tidak biasa, pastinya belajar dengan cara home school kak seto akan ada plus minusnya. Keuntungan home school kak seto adalah si anak akan mendapatkan fokus perhatian penuh karena hanya dia yang diajari tanpa ada siswa lain seperti di sekolah pada umumnya. Dan ini juga akan mengajarkan si anak menjadi pribadi yang mandiri, tidak ada yang bisa dijadikan teman sekelompok, ia harus berusaha mencari tahu sendiri, hal ini akan meningkatkan daya kreativitasnya. Anak homeschooling akan lebih rentan dari pergaulan yang menyimpang, seperti kebiasaan mencontek, tawuran, dan drugs.Di balik kelebihan tadi, pastinya ada kekurangan yang harus diwaspadai. Hal yang paling ditakutkan dalam homeschooling adalah, kurangnya kemampuan berinteraksi sosial untuk si anak. Karena itu dibutuhkan komitmen yang tinggi orang tua untuk bisa membantu si anak berinterkasi. Setelah homeschooling seperti di school home kak seto, si anak harus diajak bersosialisasi seperti bermain di lingkungan rumah dengan teman sebayanya, ataupun jalan-jalan ke tempat rekreasi sekaligus mengenalkan tentang dunia luar. Hal ini untuk mengantisipasi kemungkinan si anak sulit bekerja dalam team work.Satu hal lagi yang menjadi kekhawatiran sistem homeschooling, yaitu masa depan si anak dalam memperoleh pekerjaan atau profesi. Karena untuk memperoleh pekerjaan, sudah pasti memerlukan ijazah ataupun sertifikat kelulusan, yang menjadi gambaran sejauh mana kemampuan seorang anak memperoleh ilmu selama ia menempuh pendidikan. Tapi dengan semakin berkembangnya homeschooling di Indonesia, anak hasil homeschooling bisa mengikuti ujian kesetaraan paket A, paket B, dan paket C, yang nantinya bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi. (pk-11)

Disadur dari sebuah blog di Maya...

September "bukan" Ceria


Satu bulan ini, betul-betul menjadi hari yang amat kurang menyenangkan.. Mungkin Tuhan sedang menegurku..

Pertama rotasi posisiku dari sebuah program yang sudah aku geluti selama kurang lebih empat tahun, kini harus diserahkan kepada orang lain. Program tiga jam itu sungguh seperti sudah mendarah daging di tubuhku. Tapi entah... sebagai prajurit memang harus menerima apapun perintah komandan. Aku digeser ke program baru, yang sama sekali tidak menjadi habitku. Dan, menurutku ini bukanlah tantangan.. Pekerjaanku menjadi seolah ringan.. atau mungkin.... akupun memutar pikiranku menjadi ringan dan positif. Aku memang dibutuhkan untuk program ini menjadi berwarna dan berbobot. Yah, semoga itu benar dan aku bisa berkarya menjadi lebih baik.. ketimbang aku harus meratapi rotasi ini.....

Kedua, sebuah kejadian tak mengenakkan sungguh mengagetkanku beberapa hari lalu. Di hari Ahad aku bersama keluarga.. anak dan istriku ingin meluangkan waktu untuk berlibur dengan mengisi waktu berolahraga. Kami pun semangat empat lima berangkat berolahraga renang, setelah sebelumnya kami berjalan-jalan sejenak untuk berbelanja di sebuah mall. Tempat berenang itu ada di Taman Tirta Pulo Mas... lokasi tak jauh dari rumah kami. Musibah pun menimpa kami tatkala kami tengah berbelok di pertigaan menuju lokasi yang hanya berjarak kurang dari lima puluh meter... Sebuah mobil tiba-tiba melaju mundur dar arah samping kanan kami saat di belokan. Dan.. Bruuuukkk... Mobil itu sempat membuat buyar perhatian kami, dan sungguh mengagetkan ketika mobil tergoyang kencang. Sontak emosiku terbangun, lalu aku turun dari mobil sambil memperhatikan si pengemudi mobil yang menubrukku. Rupanya dia keluar mobil dan meminta maaf lalu mengajak damaii. Oooh...oh... tidak bisa.... Anda salah, anda harus mengganti, atau urusan sama polisi.. rupanya dia ciut dan beriktikat baik karena memang bersalah. Akhirnya mobilku dibetulkan ke bengkel atas biaya pertanggungjawaban si pengemudi dan semoga rampung secepatnya, karena masih di bengkel saat kuketik ini.

Ketiga, belum rampung urusan mobil kelar.. eh ada saja urusan lain yang tak kalah beratnya. Sidak PLN menemukan meteran listrik di rumahku bermasalah. Meteran itu ternyata dipasang jumper oleh pemilik rumah lama. Aku sungguh tidak mengerti, niat amat si pemilik rumah lama sebelum aku memasang penghambat meteran agar biaya murah. Ini yang merugikan negara. Tapi, ulah pemilik rumah lama inilah jadi buah simalakama buatku. Di depan petugas aku berupaya meyakinkan kalau aku tidak melakukan perbuatan itu. Aku ngerti hukum dan masih memiliki nurani. Rupanya itu tak mampu meyakinkanku. Si petugas bilang ya bapak tetap harus ke kantor, dan memenuhi denda yang sudah ada rumus dan ketentuannya. Wadhuh, ada denda... dan permintaan maaf pun tak mempan. Sampai di kantor PLN, sungguh aku kaget ketika data yang diberikan, aku harus membayar denda dua digit alias 10 juta rupiah. Woalah... duit dari mana saya harus bayar denda sebesar itu ??? anakku saja sampai sejauh ini mau masuuk sekolah dasar masih harus nabung je.. kok malah ada urusan begini.. mobil yang ditabrak aja juga belum rampung urusane... duhhhh.... apes-apes.....

*tepokjidat

Tapi ada satu hal positif yang terpetik dari peristiwa beruntun ini. Tuhan masih sayang sama hambanya ini. Tuhan masih mau mengingatkanku untuk tidak sombong dan egois. tuhan mengingatkanku untuk sebuah pertobatan.... bahwa di luar sana masih banyak persoalan yang harus kamu hadapi dengan kepala dingin. Aku diingatkan bahwa dalam bertindak dan berbuat atau mengambil keputusan itu harus berhati-hati... Kini, aku harus mengingat Teguran Dia.. dan mendekatkan diri kepada Dia... Kelak, rencana ini akan Indah pada akhirnya....