Kamis, 28 Februari 2013

Inikah Potretmu Bila Senja ?

Cerita seorang sahabat..

Pagi itu, klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 pagi, seorang pria berusia 70-an tahun datang untuk membuka jahitan pada luka ibu jarinya. Seorang perawat menyiapkan berkas dan memintanya menunggu. Alasannya para dokter masih sibuk. Si Kakek itu diperkirakan bisa ditangani dokter satu jam kemudian.

Pria sepuh itu tampak gelisah. Di mondar-mandir di ruang tunggu sembari sebentar-sebentar matanya tertumbuk melirik jam di tangannya.

"Bapak terburu-buru ya....?" tanya si perawat penuh iba. Pria itupun menyahut cepat.... "iya..."

Sejenak perawat itu berpikir perlu membantu pria yang sudah uzur tersebut. Dia berpikir pekerjaan untuk pasien ini tak terlalu sulit. Bisa dilakukan olehnya sendiri, tanpa harus menunggu dokter. Apalagi, dia masih punya banyak waktu luang untuk si kakek tersebut. Bergegaslah dia menghampiri salah satu dokter yang dinas hari itu di tengah kesibukannya. Pak dokterpun menyetujuinya.

Si Perawat akhirnya menangani si Kakek. Dan, adalah sepenggal percakapan saat perawatan.

"Kenapa bapak terburu-buru, apa ada janji lain?" tanya si perawat.

"Tidak... Saya hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama isteri saya," sahut Pak Tua enteng.

Kakek itupun bercerita, bahwa setiap dua hari sekali selalu menyempatkan makan siang bersama isterinya yang dirawat di rumah jompo. Sang isteri sudah dirawat di panti sejak beberapa waktu lalu, saat mulai mengidap penyakit Alzheimer.

"Apakah isteri bapak akan marah bila datang terlambat,' si perawat bertanya penuh ingin tahu.

"Isteri saya sudah tidak lagi mengenali saya sejak lima tahun terakhir," jawab si Kakek penuh percaya diri.

Sontak si perawat itu terkejut dan spontan terlontar dari mulutnya, "kalau isteri bapak sudah tidak mengenali lagi kenapa masih pergi ke sana ?"

Satu tangan si Kakek yang sedang tak dirawat, menepuk pundak perawat muda tersebut sembari tersenyum. 

"Dia memang tidak mengenali saya, tapi saya masih mengenali dia bukan..."

Si perawat mendadak bungkam seribu bahasa. Matanya menatap si Kakek dengan berkaca-kaca. Rampung perawatan, si Kakek itupun berpamitan. Sementara si perawat tak bisa mengalihkan pandangannya ketika pria sepuh itu berlalu hingga tak terlihat lagi.

Sepenggal kisah ini betul-betul membuat perawat itu merinding. Cinta Kasih seperti itulah yang banyak didambakan semua orang dalam hidupnya.Cinta sesungguhnya tdk bersifat fisik atau romantis. Cinta sejati  adalah menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan yangg tidak akan pernah terjadi.

Pengalaman ini menyampaikan satu pesan penting: Orang yang paling  berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, mereka hanya berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki. Hidup bukanlah  perjuangan menghadapi badai, tapi bagaimana tetap menari di tengah  hujan.

Jakarta, 28 Februari 2013

Selasa, 26 Februari 2013

"Teguran" di Hujan Rintik

Jakarta, Gading Griya Lestari, 29 Januari 2013.

Pagi itu mendung tampak menggantung di sekitar rumahku. Jadwal pagi itu menjemput anakku pulang sekolah pukul 10.00 WIB. Berangkat dari rumah setengah jam lebih awal. Kucomot helm dan kupasang di kepala. Kunci motor kucolok di kontak motor Pulsar Bajaj milikku. Jreennnnngggggg.... motor pun menyala, motor kesayanganku pun melaju.

Sepenggal perjalanan telah kulalui. Hujan rintik menggelitik saat berkendara. Kian lama, hujan kian tak bisa diajak kompromi. Aku memutuskan balik lagi ke rumah untuk berganti mobil. Motor kuputar haluan kembali ke rumah. Meski kian basah terguyur gerimis, badan tapi tidak kuyub. Kurang lebih 50 meter lagi sudah masuk kompleks rumahku.

Tapi tiba-tiba...... ciiiiittttttt.... rem mendadak kutekan. Sebuah mobil kijang yang seolah memberiku jalan untuk menyalip, mendadak memepet untuk melaju. Dan... roda motorku selip. Aku terjatuh ke arah kanan hingga dua kali badan menghantam ke tanah. Gedebummmm... Bahu menjadi penyangga tubuhku. Posisi jatuh yang tak lazim. Ya, aku jatuh di atas separator pembatas dua ruas jalan yang penuh rumput dan pepohonan. Sementara motorku terseret dan berhenti tak jauh dariku di atas aspal.

Aku dalam kondisi sadar dan bangun dari terkapar jatuh. Tanganku terasa susah diangkat. Satu tangan kugunakan mengangkat tangan kananku yang kebas. Sambil berdiri kulihat dua orang baik membantuku. Satu memapah berdiri, dan satu lagi mendirikan motor. Mereka tak tahu kalau aku kesulitan menggerakkan tangan dan langsung pergi. Tapi pertolongan merekan sungguh berarti, ketimbang pengemudi mobil sial yang langsung ngacir. Aku sendirian tergopoh susah meraih motorku. Ngilu terasa sakit di bahu lenganku. Motor kunyalakan dan melaju motorku hingga ke rumah yang berjarak sekitar lima menitan.

Saat perjalanan, aku melintas di depan seorang teman. Pagi harinya, dia berbincang di rumahku. Aku tersenyum menahan sakit untuk menyapanya. Dia sungguh tak tahu. Sampailah aku di rumah. Badan kini menjadi basah kuyub. Tangan kian sakit saat berusaha melepas bajuku. Kupegang tangan dan memar di sekujur bahu. Semua bengkak mengeras. Sial pikirku. Aku tak jadi jemput anakku. Kuminta ibunya yang mendampingi sekolah, pulang menggunakan kendaraan umum. Dan aku memutuskan tidak ke kantor hari itu, untuk memeriksakan ke dokter.

Setiap hari sudah tugasku mengantar dan menjemput anakku sekolah. Aku selalu menggunakan motor karena lebih lincah menyelip dan menyalip antrean mobil yang amat padat di rimba Beton Batavia. Apalagi bila anakku kesiangan bangunnya. Dan hari itu akhirnya aku harus menerima nasib, jatuh dari motor, saat hendak mengganti mobil karena hujan datang.

Begitulah kisahku di hari naas. Lalu selang kurang lebih sepuluh menit, isteri dan anakku tiba di rumah. Mereka melihatku terbaring di kamar hanya dengan hanya dibalut celana pendek. Sementara tangan dan bahuku penuh memar tanpa lecet. Aku tidak langsung ke dokter. Isteriku minta menunggu orang tuanya datang karena ingin mengantar ke rumah sakit. Maklum, ibu mertua seorang perawat. Jadi tidak mau anaknya salah jalan untuk mencari pengobatan.

Jam sebelas siang lebih sedikit semua sudah berkumpul. Mertua datang bersama kakak iparku. Betul-betul riuh seolah ada bencana besar. Kami kemudian berangkat ke RS Gading Pluit. Rumah sakit ini kupilih karena menanggung asuransi kesehatanku. Setiba di rumah sakit, aku langsung masuk IGD dengan tertatih-tatih. Perawat memintaku berbaring di bilik penanganan darurat. Dokter jaga datang. Diperiksa dan disuruh menunggu untuk rontgent. Aku susah bangun duduk untuk posisi rontgent. Petugas mengizinkanku sambil berbaring.

"Gakpapa, "katanya. Selesai rontgent, aku kembali ke bilik sambil didorong dengan pembaringan. Sesaat kemudian dokter memanggilku. "Bisa bangun jalan, ke ruang saya...."kata dia kusambut anggukan.

Di meja dokter tertempel foto hasil rontgent pada papan. Dokter menjelaskan kondisiku seperti dalam foto tersebut tidak ada masalah. Semua utuh dan kemungkinan hanya memar otot dan tulang.

"Syukurlah... semoga tidak apa-apa," kataku.. Lalu dokter memintaku datang lagi mengambil hasil analisa radiologi.

"Oh..ini kesimpulan dokter, bukan hasil analisa,"gumamku sembari menerima selembar amplop negatif film rontgent. Tapi dokter menyarankan konsultasi ke dokter ahli bedah tulang untuk kepastian hasil analisa radiologi. Aku pun menyahut cepat, "Baik dok, kalau gitu hasil rontgent ini ditinggal ya."

Sore hari pukul 17.00 WIB. RS Pluit Gading. Kuterima sodoran perawat selembar hasl analisa ahli radiollogi.

"Dicurigai ada fraktur dan soft tissues sweilling pada tulang skapula," begitulah nukilan tulisan kesimpulan paling bawah dari analisa tersebut.

Rupanya dugaan dokter awal memang kurang jitu. Namun sudah benar dia menyarankan konsultasi ke dokter ahli. Dan sore itu, aku memutuskan untuk menemui dokter ahli yang dinas malam itu. Dr. Hamdani.

"Patah Skapula dan pembengkaan jaringan lunak," kata dokter Hamdani sambil melihat-lihat foto rontgent milikku yang ditempel di dindingnya.

 "CT Scan ya seluruh bagian paru dan lengan ya... biar jelas letak dan bentuk patahannya..," lanjut dokter.

Malam itu juga aku ambil CT Scan dan esoknya hasil foto kuambil sekaligus kuserahkan ke dokter saat kontrol hari berikutnya. "Hmmm.. patah benar kan, kelihatan...," kata dokter sambil menunjuk foto skalpulla.


Dokter kemudian memberikan masukan untuk proses pengobatan dan penyembuhan. Satu pengobatan konservatif dan operasi dengan memasang pen pada tulang yang patah. Namun, dokter menganjurkan untuk konservatif, dengan mengkonsumsi obat dan vitamin, serta susu, selama proses pertumbuhan tulang normal selama enam bulan.

"Hah.... enam bulan dok," spontan aku menimpali dokter.

Bukan waktu yang pendek proses penyembuhannya... aku harus menggendong tanganku selama kurang lebih enam bulan.

Dokter kemudian memberikan penjelasan alasan tidak melakukan operasi. Tulang yang patah berada pada bagian yang dibungkus otot gerak dan syaraf penting bagi tubuh. Operasi memang bisa dilakukan, tapi amat beresiko. Proses operasi bakal lama dan ekstra hati-hati. Bila terjadi kesalahan bisa berakibat fatal...

"Jadi, pengobatan konservatif aja ya....," kata dokter kembali menawarinya. Kusambut saran itu dengan anggukan dan menyerahkan semua keputusan kepada dokter. Dalam hatiku, ternyata tak seperti yang banyak dikatakan banyak orang, kalau dokter selalu hantam kromo menyarankan operasi.

Akhirnya pilihan kuambil untuk mengikuti jalan medis. Aku yakin proses penyembuhan itu yang paling utama adalah keyakinan dari individu sendiri. Sehingga cukup kutampung saran banyak orang untuk diobati ke ahli patah tulang, seperti dukun, cimande, sensei, dan sebagainya.... Pertimbangannya cukup panjang. Hingga harus kulakukan riset dan wawancara tentang keduanya. Pilihan inipun bagian dari sebuah keyakinan dan pengetahuan.

Sebulan aku harus beristirahat di rumah atas perintah Pak Dokter. Aku minta untuk tetap bekerja, tapi hardikan Pak Dokter yang kuterima. Alasannya, tulangku itu tempat rawan gerak. Rasa bosan terus membelengguku. Bersyukur satu dua teman telah menghibur datang ke rumah. Mereka memberikan suasana baru di tengah aku harus teronggok dengan aktivitas menjemukan. Support dari pimpinan kantor, teman-teman dan handai tolan bergulir dari jejaring sosial dan telepon genggamku.

Hikmah pun kuambil, dengan istirahatku ini mungkin menjadi teguran buatku untuk lebih dekat dengan keluarga. Setiap hari, aku ditegur supaya tahu perkembangan dan keseharian istri dan anakku bila aku pergi bekerja. Disinilah sepenggal kisah yang sangat membuatku menitikkan air mata. Bahkan, ayahku dari kampung halaman pun tak ketinggalan datang ke Jakarta untuk menengok dan mengasuh anak-anakku. Inilah semangatku untuk sembuh cepat.

Sudah hampir sebulan berlalu. Tiga kali sudah aku bolak-balik ke dokter. Tangan sudah mulai membaik. Setidaknya, lengan dan bahu sudah mulai bisa kugerakkan, meski tetap harus digendong dan belum boleh untuk beban. Dokter juga mulai mengizinkan kembali beraktivitas, sembari terapi menggerakkan otot bahu yang lama beristirahat. Perjalananku masih panjang....

Get Well Soon bro... Thanks atensi dari keluarga, sahabat dan handai taulan semuanya......

Kamis, 31 Januari 2013

Ibu Kota Terendam Banjir

Petaka Pembawa Makna

Petang itu, Rabu 17 Januari 2013.
Lelah menghampiriku, setelah seharian bekerja mengemas berita banjir Jakarta. Malam itu, baru sebagian Jakarta terendam air kiriman Bendung Katulampa. Banjir merendam ratusan rumah warga Kampung Pulo, sementara saya dan teman-teman punya kewajiban mewartakannya. Ini adalah tugas dan panggilan kami sebagai juru warta.

Jarum jam berjalan, menunjuk waktu untuk kembali ke rumah. Sedikit terlambat malam itu tiba di gubuk kecil sederhanaku di seberang Pegangsaan Dua. Lelah dan penat berkecamuk dalam tubuhku. Tapi semua itu sirna tatkala tiba di rumah, dua anakku masih bercanda dan menghampiriku. Sejenak bercanda setelah membasuh tubuh, tak terasa malam kian larut. Kami semua pun terpejam oleh lelah bahagia.

Pagi, Kamis 18 Januari 2013
Pagi pukul 06.00 Wib, sayup-sayup derap hujan menyapaku. Saat itu pula kudengar suara lain... "Pak, anakmu masuk sekolah nggak, hujan deres," kata istriku. Mataku masih berat seolah lengket. "Hujan ya ?" Sahutku. Sejenak kubangun dari pembaringan. Keluar, dan melongok ke jendela. Gelap gulita. Pagi tak biasa. Langit terselimuti mendung. Air menetes deras, menghantam tanah. Mengingat hari itu, anakku baru hari kedua masuk sekolah untuk penyesuaian setelah libur, aku memutuskan anakku izin dulu. Pagi itu dua anakku pun, yang masih berusia lima dan dua tahun kuizinkan di rumah saja. Mereka kubiarkan tetap tidur.

Di tengah hujan deras itulah, aku memutuskan menemani mereka istirahat. Dan aku terlelap. Seolah baru sekejap, sebuah suara mengagetkanku. "Bapak-bapak, bangun... bangun... banjir...banjir....," istriku panik sembari menggoyang-goyang tubuhku yang betul-betul lagi pulas hari itu. Aku terbangun. Tak sadar aku melonjak dan berlari menuju pintu, lantaran kaget. "Ya ampun...," aku langsung meraih sekop air. Kuserok air keluar dari rumah. Tapi apa daya, air lebih cepat masuk ketimbang keluar. Aku langsung mengalihkan pikiran dan mata ke barang-barangku.  Sofa, kursi, mainan anakku, surat-surat penting, alat-alat elektronik, baju dan kasur, langsung kubereskan. Semua kunaikkan lebih tinggi agar aman.

Anakku masih tidur. Isteriku menerima kabar dari sekolah, kalau sekolah diliburkan. Memang kabar di televisi, pagi itu banjir merata di Jakarta dan sekitarnya tanpa kecuali. istana Presiden pun tergenang banjir. Jam terus bergerak hingga siang. Lega menghampiriku. Air tak lagi meninggi. Seatas mata kaki. Tapi lemari-lemari plywood dan kulkas di rumah yang terendam semata kaki menjadi kekhawatiranku. "Semoga gak naik lagi..," batinku. Hati masih tenang meski air menyesaki rumah dan jadi ajang bermain dua anakku, yang sudah terbangun. Listrikpun masih menyala. Setidaknya, masih ada hiburan nonton tv sembari menunggu air surut.

Pukul 14.00 WIB, sekitar tujuh jam sejak air masuk menyapa rumahku, listrik di rumah menyusul padam. Mendadak sekitar rumahku menjadi ramai meski banjir. Hujan pun mulai reda. Orang-orang keluar karena gerah di dalam rumah. Mereka berbincang di tengah air banjir, bercerita tentang kondisi sanak dan saudara. Bahkan sebagian terlihat mengusung-usung sejumlah barang miliknya untuk pergi mengungsi. Hotel, apartemen, atau rumah sanak famili yang selamat.

Banyak ragam warga sekitar menyikapi banjir. Ada pula yang tenang, seolah sudah biasa. Mereka kongkow di pos sekuriti dengan yang lainnya, seperti hari-hari biasa. Mereka duduk di bangku dan meja yang terendam banjir sepaha orang dewasa. Mereka menikmati suasana sembari ngopi dan sebagian menghabiskan rokok di tangan.

Naluri jurnalistikku tergerak. Kurekam semua suasana di situ. Rencananya, gambar itu akan kukirim ke kantor melalui email. Tapi rupanya, listrik tak kunjung hidup. Hingga pukul 18.30, barulah kejap nyala lampu terasa. Dan saat itulah aku sudah disibukkan mengurusi rumah yang terendam. Video tadi tak jadi kukirim ke kantor. Aktivitas di rumah mulai berdenyut lagi. Tv bisa ditonton, komputer bisa menyala. Anak-anak sedikit terhibur. Sementara mataku masih tertumbuk pada genangan air di rumah. "Aduh, ini barang-barang bisa runyam kalo gak surut," batinku.

Malam kian larut. Anak-anakku sudah terlelap tidur. Beruntung mereka tidak rewel selama mata belum terpejam tidur. Mereka malah menikmati air seolah menjadi sahabat bermain. Mereka juga disibukkan dengan televisi yang cukup menghibur mereka dengan acara anak-anaknya.  Sementara malam itu, aku tak mudah memejamkan mata. Hingga pukul 02.30 WIB aku baru tertidur. Itupun di kamar depan sendirian, karena bersiaga. Hujan yang berulang kali reda dan deras datang tiba-tiba membuatku khawatir. Tapi lelah tak bisa kupungkiri. Aku terpejam mata hingga pagi.

Pagi, Jumat 19 Januari 2013
Saat terjaga, rupanya air masih menggenang, namun hujan sudah reda. Aku sedikit lega, meski cuaca di luar tidak bersahabat. Mendung gelap gulita. Sesaat kemudian sekitar pukul 09.30, terang sudah mulai menyapa. Aku meminta izin kepada isteri untuk berangkat ke kantor, meski rumah masih terendam air. Istriku mengizinkannya. Kusambar sepeda gunung, untuk keluar rumah mensurvei jalur keluar komplek menju kantor. "Nggak ngantor, pak... ?" tanya Ah Siong, tetangga rumah. Dari percakapan dengan orang inilah aku kemudian semakin yakin, jalur menuju kantor aman. Dan berangkatlah aku ke kantor. Sembari merampungkan tugas di kantor, kabar baik pun datang dari rumah. Isteri bilang, air sudah surut.

Malam hari sepulang kerja, aku langsung ganti baju, dan menyiapkan semua peralatan bersih-bersih rumah. Mengepel, menyemprot, dan mengangkut-angkut barang-barang' serta merapikannya. Tak cukup sehari merampungkannya. Sepekan pekerjaan itu barulah rampung. Sementara hati masih berdebar, mengingat Jakarta masih waspada hingga tengah Februari 2013.

Di sini makna hidup betul-betul kudapatkan. Betapa beratnya para korban banjir. Sementara di satu sisi, para juru warta bersuka cita mengabarkannya, demi komoditi berita. Tapi, ya begitulah hidup. Harus ada simbiose mutualisma. Setidaknya, dengan mengalaminya, seorang jurnalis akan lebih empati dan berhati-hati untuk mengabarkan suatu bencana. Disitulah nilai jurnalisme, dan tujuan mengabarkan sebuah bencana bisa bermanfaat. Bukan sekadar mencari sensasi dan menarik banyak penonton. Tapi membantu penonton, khususnya para korban bencana, bisa mendapatkan informasinyang akurat dan benar.

The End