Minggu, 18 November 2012

So You Think You can.....

Malam itu, November 2012 

"So You Think You Can Dance" diputar di salah satu channel sebuah tv berbayar. Sebuah kontes anak muda menari (bukan tradisional). Satu per satu peserta single maupun duet unjuk kebolehan di atas panggung. lenggak-lenggok mereka disaput dengan belaian warna-warni lampu. 


Sungguh indah. Sekalipun bukan mahakarya, namun kompetisi ini memang sungguh membangun sebuah karya seni yang menakjubkan. Mereka berkompetisi dengan beragam genre tarian. Ada foxtrot, broadway, ballet, kontemporer, bollywood, hiphop, dan ragam lainnya. 

Bagaimana mereka mampu berkembang dari nol menjadi hebat di atas panggung? Masing-masing kontestan mendapatkan pemandu seorang pelatih papan atas dunia di Hollywood. Pelatih itu pun berganti-ganti. Mereka dari nol diberi kesempatan mengembangkan talentanya. Yang gagal, hukum alam yang akan merontokkannya.

Berlatih menjadi kewajiban mereka sebelum manggung. Menyerap ilmu dari para pelatih bintang itulah, modal mereka bila mau tampil apik dan menghayati. Tentu saja, karena koreografi tarian dari para pelatih itu, yang menjadi asupan para kontestan untuk mengembangkan talentanya berlenggak-lenggok di atas venue or stage. Ya. Para koreografer itu memang menjadi kunci keindahan di atas panggung. Merekalah perancang cerita, busana, ritme dan gerakan liak-liuk tubuh para kontestan.

Tengoklah apa kata para juri di ajang itu. Mereka selalu memberikan hormat kepada para koreografer itu, bila tarian mereka berhasil ditampilkan oleh para kontestan. ya, karena mereka ini kebanyakan para begawan tari dan seni.

Namun, ini yang terpenting. Semua ide dan gagasan para koreografer itu tak ada artinya sehebat apapun, tanpa ditopang semangat, kemauan, kreativitas, kecerdasan dan talenta dari para murid-murid kontestan. Semua gagasan itu menjadi sebuah karya di tanah lapang kering kerontang. Yang akan dilihat orang, hanyalah tanah kering retak-retak menjadi liat, begitu pula rasa yang ada adalah panas menyengat ubun-ubun kian membikin pusing. 

Deskripsi di atas menurut saya memiliki korelasi di dunia seni apapun. Salah satunya dunia seni jurnalisme broadcast. Para Koreografer itu ibarat para Executive Producer. Dia inilah penjaga gawang sebuah program. Ke mana arah dan tujuan sebuah produksi, adalah dia kuncinya. Tapi dia tidak akan memiliki arti apapun bila tidak ditopang personil, seperti produser, assprod, reporter, presenter, standupper, supporting teknik, yang handal. personil-personil ini terbangun dalam sebuah tim, dan bukanlah individu. Tim ini sepatutnya memiliki talenta, kemauan, kedisiplinan, kreativitas dan sebagainya. 

Karena itulah, saat melihat tayangan kontes tari di negeri Abang Sam atau United State, menjadi potret kecil kehidupan dunia broadcast. Para produser adalah kreator-kreator seni di layar kaca untuk menampilkan sebuah flow dan show rundown sebuah program menjadi apik, cantik, menarik, mendidik dan dilirik. Pilar penyangga itu ada di tangan mereka yang berada di garda terdepan, termasuk perangkat personil teknik yang menjadi support jalannya seni saat on air.

Dari tulisan ini, saya hanya sedikit ingin meluapkan sebuah pandangan menarik yang tampaknya sama dengan miniatur sebuah seni pertunjukan seperti tari. Dunia seni broadcast tak bisa dijalankan sendiri oleh individu. Tetapi tim yang kuat, yang mampu mengejawantahkan segala pemikiran seni "si dalang" "So 
You Think You Can Make a News Broadcast ??"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar