Senin, 29 Oktober 2012

Makan di Amigos, Dont Worry..

ANCAMAN PENYAKIT RESTORAN AMIGOS
___________________________________________


Merasa gengsi makan di warung kaki lima? Sudah bukan
jamannya lagi. Saat ini, sudah jadi tren pegawai kantoran
dan mahasiswa mengonsumsi makan murah di sudut-sudut
gedung pencakar kota metropolitan. Bahkan, ada istilah
untuk tempat makan seperti ini, yaitu 'restoran amigos'
(agak minggir got sedikit).

Warung-warung makan murah yang terselip diantara
gedung-gedung perkantoran, menyediakan aneka rupa
makanan. Mulai dari nasi rames, nasi goreng sampai
sate panggang. Namun, dibalik rasanya yang lezat dan
harganya yang miring, 'restoran amigos' memiliki risiko
tesendiri. Yaitu, rawan penyakit tipus, kolera, disentri,
cacingan, dan hepatitis.

Dr. Handrawan Nadesul, dokter Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo (RSCM) mengingatkan banyaknya
pegawai di gedung-gedung bertingkat masuk rumah
sakit gara-gara makan di warung kaki lima. Mereka
kebanyakan lebih memilih makan di warung kaki
lima ketimbang di restoran atau kantin gedung
tempatnya bekerja dengan alasan harganya lebih
terjangkau.

Kasus terserang penyakit tipus paling sering muncul.
Diduga, sumber penularnya melalui pramusaji warung.
Habis dari jamban mungkin tidak cuci tangan, langsung
menyendok nasi, memegang lauk, menyomot bawang
goreng.

Di tubuhnya bercokol kuman tipus salmonella typhi.
Bila kuman tipusnya masih tinggal di jemarinya, maka
dengan cara begitu seperti itulah kebanyakan penyakit
infeksi perut ditularkan.

Hal sama terjadi dengan kolera, disentri, cacingan,
hepatitis, atau keracunan makanan. Pangkal muasalnya
akibat sanitasi kaki lima yang buruk, selain higiene
penjajanya buruk. Sekali pun penjajanya bukan penular
penyakit, beragam bibit penyakit sudah bertebaran di
sekitarnya. Mungkin dari air pencuci piring, air minum,
air cuci tangan tercemar, sebab diambil dari sumber
tak bersih.

Khusus untuk penggemar lalap mentah harus mewaspadai
kuman coli, jenis kuman pencemar air paling banyak di
air sungai. Sebagaimana diketahui, sayuran yang masuk
Jakarta umumnya dicuci di selokan atau memakai air
kali. Tidak heran jika kasus cacingan orang kota diduga
ditularkan lewat lalapan mentah. Bahkan dari beberapa
penelitian diketahui, sayur yang dijual di supermarket
di Jakarta yang tampaknya bersih ada yang tercemar
telur cacing.

Amati cara penjual ketoprak, rujak bebeg atau buah dingin
menyiapkan sajiannya. Dengan tangan telanjang habis
memegang uang, tanpa cuci tangan langsung melayani.
Itu berarti segala virus, kuman, jamur, atau telur cacing
di sela kuku mudah pindah ke makanan yang disajikan.

Kalau pun sempat melap tangan, lapnya umumnya lebih
dekil dari gombal. Piring, gelas, sendok, dilap memakai
lap itu juga. Mungkin juga lap itu buat menyeka mulut
dan keringat.

Buah dingin pun disiapkan dengan mengupas buah tanpa
sarung tangan dan pisau yang belum steril. Pendinginan
buah memakai es batu pun belum tentu membunuh bibit
penyakit yang telanjur mencemari gerobak buah dinginnya.
Maka jika disiapkan oleh penjaja yang jorok, mencucinya
dengan air kotor, atau ia seorang pembawa kuman, buah
dingin itu berpotensi menjadi sumber penyakit.

Berbeda dengan makanan yang terbuat dari bahan
mentah. Jenis jajanan soto, sop, mie rebus, dan gorengan,
umumnya lebih aman. Sekalipun mungkin jorok
penyajiannya, namun bibit penyakit pencemarnya akan
mati oleh suhu panas yang rata-rata sampai mendidih.

Jadi kesimpulannya, jajanan panas lebih aman. Tapi yang
lebih aman, membawa makanan dari rumah. Tampaknya
nasihat bijaksana dari ibu disaat kecil dulu agar tidak
jajan sembarangan, masih berlaku hingga sekarang. ***

(Eduardus Karel Dewanto-Tempo News Room)
Hangtuah Digital Library

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar